LEGACY | 56

76 7 4
                                        

Tiga belas laki laki dan tujuh perempuan duduk bersama di Ruang Tamu Mansion, mereka sedang berpikir langkah apa yang harus mereka ambil selanjutnya karna salah langkah saja nyawa manusia jadi taruhan nya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tiga belas laki laki dan tujuh perempuan duduk bersama di Ruang Tamu Mansion, mereka sedang berpikir langkah apa yang harus mereka ambil selanjutnya karna salah langkah saja nyawa manusia jadi taruhan nya. Daniel dan Julian bekerja sama menyusun strategi, Julian ahlinya dalam hal ini karna dia seorang Commander atau Panglima Perang. Mereka harus mempersiapkan semua rencana dengan sangat matang, tidak boleh ada kesalahan apapun karna ini menyangkut nyawa orang banyak. Misi utama mereka adalah menyelamatkan para sandera, untuk selanjutnya barulah mereka menghadapi pertarungan yang sesungguhnya.

"Maaf, Tuan Muda. Tuan Rafael dan dua teman nya datang" Petter tiba-tiba muncul dan memberitahu jika Rafael dan teman temannya datang ke Mansion.

"Suruh mereka masuk" Ujar Daniel.

Petter mengangguk patuh, tidak lama Rafael muncul diikuti Hans dan Fandy dibelakang nya. Mereka saling menyapa dan bertukar tos ala lelaki, bahkan Daniel tak segan memeluk mereka.

"Keadaan lo gimana, fan? Udah baikan?" Tanya Daniel pada Fandy.

Pria itu mengangguk sambil tersenyum kecil. "Udah baikan, niel. Cuma luka kecil doang" Gurau nya.

"Luka kecil apaan? Lo hampir sekarat karna itu, anjir!" Cibir Rafael yang membuat mereka tertawa.

"Berhubung kalian disini, gue mau minta bantuan sama kalian. Tapi apa kalian sanggup?"

Ketiga pria itu menatap Daniel bersamaan, mereka tau apa bantuan yang di maksud oleh Daniel. Rafael mendekat, dia menepuk bahu Daniel dan tersenyum, pria itu mengangguk tanda bersedia.

"Gue udah denger beritanya dan tujuan kita kesini juga karna itu. Gue udah bilang kan bakal bantu kalian? Valerine atasan gue dan lo temen gue, udah seharus nya kita saling bantu kan?" Ujar Rafael tulus.

Valerine pun berseru. "Gue bukan atasan lo untuk sekarang, el. Kita temen, jadi jangan merasa lo ada dibawah gue" Ucapan wanita itu membuat perasaan Rafael menghangatkan, dia beruntung memiliki teman sebaik Valerine.

"Makasih, ve. Gue janji akan bantu kalian semampu gue. Iya kan, guys?"

Hans dan Fandy reflek mengangguk, mereka memang ingin membantu Demonios sesuai janji mereka.

"Bilang aja apa yang harus kita lakuin?" Tanya Hans dengan serius, dia sudah tidak sabar ingin bertarung—tangan sangat gatal karna lama tidak memukul orang.

Daniel tersenyum bangga mendengar nya. "Come here, guys" Dia meminta yang lain untuk mendekat.

"Gue sama Julian udah susun rencana kita untuk ini, karna ada tambahan anggota rencana kita jadi bisa lebih maksimal"

Ia kembali melanjutkan. "—Langkah pertama, kita harus ke Markas El Valiente dulu karna semua senjata ada disana. Langkah kedua, kita bagi jadi dua tim—yaitu tim penyerang dan tim penyelamat. Tapi gue butuh orang yang jago nyetir mobil, angkat tangan!" Ujar Daniel datar namun terkesan dingin.

LEGACY || Sequel DEMONIOS GANGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang