Berkisah tentang kehidupan Daniel dan kawan kawan setelah Perang melawan Andres. Apa semuanya sudah kembali baik baik saja? Apa hidup mereka sudah kembali tenang? Tidak ada yang tau. Mereka semua telah melewati berbagai macam kebahagiaan dan kehilan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di dalam ruangan kendali Valerine dan teman teman nya memperhatikan secara seksama setiap bagian dari CCTV, mereka tidak boleh melewatkan bagian sekecil apapun. Sementara itu Samuel sudah bisa menguasai dirinya agar tidak terlalu sedih, dia harus menyelamatkan kedua orang tuanya dan juga yang lain. Namun tetap saja bayangan orang tua nya yang di seret paksa membuat Samuel semakin merasa bersalah, bagaimana pun juga ini semua karna dirinya.
Sementara itu Jonathan dan Sean berjaga didepan pintu sambil mengangkat senjata nya, siapa tau saja ada orang yang tiba-tiba masuk. Pertama tama mereka harus mencari ruangan kosong yang tidak ada penjagaan nya, barulah kemudian mereka akan menyelamatkan satu persatu para sandera dan membawa nya ke ruangan kosong tersebut. Samuel mengecek semua bagian CCTV namun belum menemukan tempat yang mereka cari.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Stop, sam" Valerine mengambil alih mouse yang di pegang Samuel, dia menekan layar nomor 13 dan disana kosong. Ruangan itu adalah Aula Hotel namun keadaan nya tidak bisa di katakan baik.
"Got it. Kita ke aula, selamatkan semua orang dan bawa kesana. Oke?"
"Cool! Tapi kita juga harus hati hati, jangan lengah karna siapa tau mereka tiba-tiba datang"
Valerine menyetujui ucapan Rafael, mereka tidak boleh lengah dan terkecoh. Musuh yang mereka hadapi itu sangat licik, tidak bisa dikalahkan hanya dengan modal nekat. Valerine kembali memimpin Team nya didepan, namun tiba-tiba Rafael mencegah nya.
"Tetap dibelakang gue. Lo jadi tanggung jawab gue atas perintah Daniel"
Memilih mengalah akhirnya Valerine mundur dan berdiri dibelakang Rafael, mereka kembali berjalan keluar dengan mengendap-endap. Keadaan di dalam terlalu sepi dan itu membuat mereka curiga, namun sebisa mungkin mereka harus waspada dan siaga. Beruntung aula berada dilantai bawah jadi mereka tidak harus pergi ke atas, disana pasti masih ada anak buah Aldo yang berjaga.
Ceklek~
Rafael membuka pintu aula secara perlahan, untuk berjaga-jaga mereka menodongkan senjata dan berjalan mengendap-endap. Mereka melihat keadaan sekitar dan memastikan jika aula itu aman, Valerine, Rafael dan Axton memeriksa sisi kanan—sementara sisanya menyebar ke penjuru aula.