Berkisah tentang kehidupan Daniel dan kawan kawan setelah Perang melawan Andres. Apa semuanya sudah kembali baik baik saja? Apa hidup mereka sudah kembali tenang? Tidak ada yang tau. Mereka semua telah melewati berbagai macam kebahagiaan dan kehilan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kekacauan bukan hanya terjadi di Mansion Aldricson tapi juga di Markas Utama El Valiente yang ada di Madrid, para Polisi dan Pemerintah juga Pihak Kerajaan Spanyol memblokade Markas tersebut untuk penyelidikan. Miranda selaku Pemimpin Mara Salvatrucha alias MS13 berhasil membocorkan data pribadi milik Henry pada Pemerintah, oleh karna itu mereka menyelidiki Henry atas tuduhan jual beli senjata ilegal dan dugaan adanya organisasi kriminal yang dapat membahayakan seluruh Spanyol—namun semua itu belum bisa di buktikan karna Henry dengan otak licik nya menutupi semua hal yang berbau El Valiente dengan sangat rapih tanpa jejak.
Saat ini Henry, Victor, Jane dan Gisella masih tertahan di Markas karna tidak diperbolehkan meninggalkan Spanyol sampai semua nya terbukti. Sementara itu mereka di temani oleh Betrand, Frederick dan beberapa bodyguard juga maid disana. Marks telah dibersihkan dan di sulap menjadi Mansion normal pada umumnya dalam sekejap mata, penjara bawah tanah pun telah di rantai dan di tutupi oleh pot pot besar agar tidak mencurigakan. Lalu kemana Lusy dibawa pergi? Henry memerintah kan Carlos untuk membawa wanita itu pergi jauh, tapi sampai saat ini dia belum mendapat kabar apapun dari mereka.
"Mas, sampai kapan kita disini? Kita harus pulang. Anak anak dalam bahaya" Jane mengguncang lengan Henry, dia sangat khawatir pada putra dan menantu nya di Indonesia.
Gisella pun sama, dia memeluk lengan Victor sambil menahan air matanya.
"Mereka akan baik baik saja. Kau percaya kan jika mereka anak hebat? Tidak ada yang bisa menyakiti anak anak kita, Jane" Henry mengelus tangan Istri nya memberi ketenangan, dia juga khawatir dengan keadaan di Indonesia—tapi Henry percaya jika putra nya mampu mengatasi semua nya.
"Tapi musuh mereka berbahaya, Mas! Harusnya kita bantu mereka, bukan malah terkurung disini"
Henry mengisyaratkan Jane untuk diam. "Aku tau. Aku janji kita akan seluar dari sini secepatnya, tapi kau tenang dulu ya? Alejandro dan Giovani bersama mereka, kau tidak perlu cemas" Bisik nya pelan agar tim penyelidik tidak mendengar ucapan nya.
"Henry. Kau yakin hanya mengirim Alejandro dan Giovani? Tidak kah itu terlalu sederhana? Nyawa anak kita sedang di pertaruhkan"
Victor menuntut besan nya dengan berbagai pertanyaan, sebagai Ayah dia juga khawatir dengan keselamatan putri nya. Andai saja Daniel tidak berjanji akan menjaga Valerine dengan nyawa nya, mungkin sekarang Victor sudah kabur ke Indonesia untuk menyelamatkan sang putri.
"Aku yakin kau masih memegang janji putra ku, Victor. Bukan kah Hugo telah menjanjikan nyawa nya demi menjaga menantu ku? Apa lagi yang kau khawatirkan?"
Henry menatap besan nya dan kembali berucap. "—aku mengerti bagaimana perasaan mu. Tapi cobalah mempercayai mereka, anak anak kita sudah dewasa dan mereka pasti bisa melindungi diri nya sendiri. Kita sudah berteman lama, jadi kau pasti tau bagaimana kami" Lanjut nya.
Victor terdiam sesaat, dia tau arti dari 'kami' yang Henry maksud. Meski ingin coba mempercayai anak anaknya tapi tetap saja naluri orang tua pasti tidak mau anak nya terluka, apalagi karna musuh yang sangat berbahaya. Diam diam Victor merasakan tangan nya di genggam, dia melirik ke bawah lalu menatap Gisella di samping nya. Wanita itu berkaca kaca menahan air mata, namun bibirnya masih bisa tersenyum kecil seolah memberi Victor kedamaian.