Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Season Two | 04 strated to get rid of
Januari 2024
Sudah Jaehyun katakan sebelumnya, ia hanya lelah untuk kembali memohon dan meyakinkan Rose atas kesungguhan dan cintanya. Entah harus bagaimana lagi, ia sudah kehabisan cara dan kata-kata.
Ajakan berpisah sudah kelewat sering keluar dari lisan Rose, lebih sering ketimbang perintah manajer dan petinggi agensi dengan seruan serupa.
Jaehyun rasa pasti, perpisahan mereka seperti telah lama dinanti-nanti realisasinya. Namun, sekalipun, tidak pernah ia berkeinginan untuk merealisasikannya.
Perseteruan malam sebulan silam dan malam ini semata hanya didukung ego dan emosi. Muak dengan setiap tanya dan intimidasi yang Rose beri. Maka, biar saja perempuan itu mereguk keyakinannya sendiri.
Biar saja perempuan itu pergi menjauh. Akan sejauh apa, biar Jaehyun coba amati kali ini. Tidak seperti yang sudah-sudah. Tidak lagi menghubungi, tidak lagi mencari-cari, tidak lagi peduli, tidak lagi mengharapkan sosoknya kembali.
Namun, sungguhkah?
Dua poin pertama mungkin iya, tetapi dua poin terakhir jelas tidak sepenuhnya.
Bisa dilihat kini, atas bagaimana sesal dan kerinduan yang semula samar itu menjajakan diri dengan kentara di raut wajahnya sesaat setelah mereka tidak saling berhadapan;
atas bagaimana ia bergegas menyambar mantel dan kunci mobil tak lama setelah berdiri di beranda apartemennya dan melihat Rose berdiri seperti hendak mencegat taksi di bawah sana.
Di tepi jalan raya, tangan yang terjulur dan hendak melambai itu segera Jaehyun raih dan genggam.
"Kamu mau pergi ke mana?" Melirik jam tangan yang menunjukkan bahwa hari sudah hampir larut, "Kamu tidak pulang ke apartemenmu?"
Setelah sempat nampak terkejut, Rose menyorot Jaehyun berikut unit apartemennya di lantai tiga sana. "Apa menurutmu aku bisa beristirahat di sana?"
Genggaman Jaehyun ditepisnya. Melangkah, memasang ancang-ancang untuk mencegat taksi yang lewat berikutnya, tetapi sial. Jaehyun mengulangi hal yang sama lalu tanpa berkompromi apa-apa menarik Rose untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Biar aku mengantarmu. Kamu mau pergi ke mana? Ke asrama? Hotel?"
"Bar."
Kegiatan Jaehyun memasang sabuk pengaman di badan kontan saja terhenti. Menoleh ia pada perempuan yang duduk di sisinya, menatap tak percaya untuk beberapa saat, lalu memalingkan pandang ke depan.
"Akan kuantar ke asrama."
Mesin mobil dinyalakan.
"Pasang sabuk pengamannya!" titah Jaehyun pelan namun cukup tegas yang mana tak dihiraukan.
Tetap saja, laki-laki itu yang mesti menurunkan sedikit ego, membuang jeda, mencongdongkan badan, dan membantu memasangkan. Sementara, Rose hanya membatu tenang.
Ributnya hanya ketika menyadari bahwa dashboard mobil Jaehyun masih menyimpan segala benda-benda yang pernah mereka beli berdua. Bantal leher, hiasan bola salju, miniatur kereta dari Swiss, gelang, ikat rambut.
Rose memunguti mereka dan bicara, "Kita sudah putus, kau harus menyingkirkan ini semua!"
Semula, Jaehyun yang tengah fokus mengemudi itu hanya diam.
"Ini juga harus disingkirkan!"
Hingga Rose merangsak sekumpulan polaroid yang menampilkan selca mereka berdua, cepat saja Jaehyun bergerak menahan. Tangan Rose dicengkramnya sangat erat.
Menatap lebih tajam, "Letakkan itu!"
Rose mengalah hanya dengan satu kali perintah.
Bukan maksud Jaehyun marah. Ia hanya sedih dan frustrasi dengan situasi mereka saat ini.
Ada niat untuk menahan keberadaan Rose sejenak di dalam mobilnya saat tiba di depan gedung asrama perempuan itu, untuk mencoba bicara dengan sebenar-benarnya, untuk memperbaiki segalanya,
tetapi Rose terburu-buru beranjak seperti tidak sudi berlama-lama duduk bersamanya.
Jika sudah demikian, apakah Jaehyun harus mulai menyingkirkan benda-benda di dashboard mobilnya?
[]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
notes: jaehyun tuh masih sayang cuma males ngomong aja soalnya kek percuma :')
rose capek dikit minta putus jaehyun ngomel dikit, dia merasa tidak disayang ah embung :')