S2 | 02: maybe that's what she really wanted

1.1K 164 43
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Season Two | 02
maybe that's what she really wanted




Desember 2023



"Lagi?! Kau menggunakan uangmu untuk membungkam media?!"

"Lalu apa yang harus kulakukan?! Setiap tahun, mereka selalu datang padaku dan menyuguguhiku bukti kencan kita, tidak peduli serapat apa pun kita bersembunyi atau sesering apa pun kita berbohong kalau kita sudah putus."

Malam itu, sebuah apartemen riuh oleh seruan dua manusia. Jaehyun, selaku pemilik tempat, tengah berhadapan dengan perempuan yang kedua matanya berlautkan sejuta emosi. Marah, takut, dan sedih adalah tiga yang mendominasi.

Bibir yang agak bergetar. Mata cantik yang berhias padam. Bisa Jaehyun pahami sekacau apa kekasihnya sekarang. Berlari kemari dengan riasan dan pakaian konser yang masih melekat di badan.

Seharusnya Jaehyun tak buru-buru naik pitam.

Seharusnya Jaehyun memberi Rose kesempatan untuk tenang sejenak atau setidaknya mempersilakan duduk. Kaki berbalut sepatu hak tinggi itu pasti terasa nyeri dan pegal sekarang. Badan itu juga pasti kedinginan sebab di luar sana salju turun dengan lebat.

Beranjak dari posisinya, Jaehyun datang kembali dengan sehelai selimut di tangan.

"Duduklah!"

Satu titah tak mendapat patuh. Jaehyun letakkan selimut di atas sofa, berikut mendekat pada perempuannya.

Tangan yang terkepal erat di sana hendak ia genggam. Tubuh ramping berlilitkan gaun sedikit bahan itu ingin segera ia bawa ke dalam dekapan.

"Mengaku saja."

Namun, suara Rose membuat Jaehyun hanya berhasil menggapai udara.

Jaehyun tatap sepasang mata, berikut bibir yang melantunkan kata, "Akui saja hubungan kita. Beritahukan pada dunia dan ...."

"Dan, relakan karir kita berdua hancur begitu saja?!" dengan tegas, menyela.

Seketika itu, Rose berhenti bicara.

"Kamu tahu apa yang akan terjadi pada kita setelah mengaku pada dunia? Kita akan menerima kebencian, hujatan, ancaman seperti kita adalah makhluk paling hina. Berada di panggung tidak akan senyaman sebelumnya. Dan, akan tiba saatnya kita akan merasa sangat muak dan ingin mengakhiri semuanya. Saat itu, baik aku maupun kamu mungkin akan mudah mengatakan lebih baik berpisah saja, tapi sudah terlambat. Semuanya tetap akan terasa berbeda."

Jaehyun ulurkan jemari, menyingkirkan helaian rambut Rose yang jatuh menutupi muka.

"Kita—"

Hendak ia nyatakan kesimpulan atas serentetan kalimat yang ia ucap sebelumnya.

Kita bisa melakukannya nanti, saat aku benar-benar mampu melindungimu. Saat kita telah menikah, atau beberapa saat sebelum kita menikah. Kita bisa mengabarkan pada dunia.

Akan tetapi,

"Kita berpisah saja."

Rose lebih dulu menyatakan akhir dari segalanya.

Membuat gerakan jemari Jaehyun terjeda. "Apa?"

Kepala Rose yang semula tertunduk kini terangkat. "Ayo putus!"

Jaehyun singkirkan tangan lemasnya dari Rose. Ia tatap kedua mata perempuan itu dengan lekat seperti mencoba menggali keraguan di sana. Namun, sedikit saja, Jaehyun tidak temukan.

"Coba ulangi ucapanmu!"

Barangkali telinganya terganggu. Jaehyun berharap mendengar kalimat yang berbeda. Namun, tetap saja,

"Ayo, putus, Jaehyun!"

Tidak ada yang berbeda.

"Mengapa mengatakannya begitu mudah bagimu?" Lirih, Jaehyun merasakan lehernya seperti tercekat.

"Apakah kamu pernah menghitung berapa banyak kali kamu mengatakan itu?!" lalu, nada bicaranya berubah tidak terkendali.

"Apa kau sungguh-sungguh ingin aku mengabulkannya?! Setelah tiga tahun bersama, setelah kita beberapa kali tidur bersama ...."

"Tentang itu, kau tidak perlu merasa bersalah. Aku tidak apa-apa. Banyak pasangan melakukannya, kemudian mereka tidak menikahi satu sama lain."

Lagi, Rose menyela, mengucap kalimat yang membuat kaki Jaehyun bergerak mundur secara lambat.

Ia mendudukan diri di atas sofa, menyandarkan punggung, menengadahkan kepala dan menutup wajah kebasnya. 

Pelan namun tegas, Jaehyun suarakan, "Pergilah, jika kau masih terus berpikir bahwa aku bertahan denganmu hanya karena rasa bersalah!"

Setelah tiga tahun bersama dan setelah segala usaha, Jaehyun pikir Rose telah meyakini pasti kesungguhan perasaannya.

Namun, malam itu, Jaehyun melihat punggung Rose bergerak menjauh.

Jika sebelumnya, Jaehyun hampir selalu bergegas menahan. Malam itu, Jaehyun tidak demikian. Terlalu lelah jika harus sekali lagi meyakinkan. Toh, pada akhirnya, perasaan cintanya hanya selalu diragukan.

Maka, dengan berat hati, ia biarkan Rose pergi. 

Barangkali, memang itu yang benar-benar Rose mimpikan. 

[]





***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***


notes: 
angst dikit nggak ngaruh :')
dikit lagi-dikit lagi wkwkwk

thankyou for reading and support :v





BITTERSWEET [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang