S2| 08: always the same as before

880 133 34
                                        

Season Two | 08always the same as before

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Season Two | 08
always the same as before




Mei 2026




Meski sebelumnya sempat berkata sibuk, pada akhirnya Rose menjadi satu di antara sekian banyak manusia berisik yang hadir di kafe itu.

Menyesap tenang minuman di dalam gelas besar. Lebih banyak menenggelamkan diri dalam diam.

Manusia yang konon katanya telah kembali dari tugas panjang ternyata tidak hadir di sana. Menenangkan sekaligus menyebalkan. 

Rose belum mempersiapkan diri secara matang untuk bertatap muka dengan laki-laki itu sehingga ini menjadi hal bagus.

Akan tetapi, ketika langkah kaki sungguh-sungguh membawanya kemari, maka percayalah bahwa ada setumpuk kerinduan yang tidak bisa diingkari oleh siapapun termasuk dirinya sendiri. 

Lalu, setelah menyumbang presensi nyaris tiga jam, Rose memutuskan pamit. Lisa yang kemarin malam sempat bersikukuh mengajaknya justru yang malam ini menjadi pihak yang ijin untuk sebuah alasan tak masuk akal. Kucingnya harus diperiksa ke dokter hewan.

Alhasil, Rose pergi dan pulang sendirian. Mengendarai mobilnya ditemani lagu-lagu dari playlist yang sudah kelewat sering diputar. Seperti telah hapal di luar kepala setiap bait dan liriknya, lisan perempuan itu kerap bersenandung kecil.

Hingga tiba masa di mana playlist memutar sebuah lagu yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.

I don't say it much 'cause
I just always thought that you knew

Lirik yang tidak familiar, tetapi nyaman didengar.

Soft Spot by Keshi baru saja ditambahkan oleh akun _jeongjaehyun ke dalam daftar.

Genggaman jemari Rose terhadap stir kendaraan mengerat secara otomatis. Nampak, perempuan itu berusaha mengumpulkan kembali fokusnya yang sesaat terasa seperti terpecah belah.

Kekonyolan apa lagi ini?

Riasan cantik dan pakaian anggun yang tanpa sadar dipersiapkan karena mengira malam ini mereka akan berjumpa di perkumpulan saja belum sempat Rose singkirkan. Sekarang, ia harus berurusan dengan debaran gila hanya karena mengetahui seseorang di sana masih mendengarkan daftar lagu yang dahulu mereka buat bersama.

Konyolnya lagi, Rose mendengarkan lagu baru yang Jaehyun tambahkan hingga nada terakhir dan mengakui bahwa selera musik laki-laki itu memang tidak pernah gagal.

Ini gila. Mereka bahkan sudah lama tidak berhubungan.

Seharusnya, Rose sungguhan pulang bukan malah mampir ke sebuah bar, mereguk minuman dan sejumlah kenangan, lalu berakhir memanggil sopir.

Ia sudah hampir dua tahun pindah hunian. Meski dalam keadaan setengah mabuk, seharusnya, mulut Rose hapal dengan alamat tinggalnya yang baru, bukan malah menyebutkan, "Distrik Hannam. Gedung nomor 11."

Lihat, ia bahkan seperti manusia yang kehilangan arah. Berjalan gontai di sepanjang koridor yang telah lama tak mencicipi pijakan kakinya.

Berdiri di depan pintu sebuah unit di lantai tiga. Seharusnya, itu sudah menjadi milik orang lain sebab Rose sudah lama meninggalkannya.

Namun, aneh. Sesaat setelah, telunjuk Rose menekan beberapa digit angka pada papan pintar, pintu kemudian berhasil terbuka.

Lalu, perempuan mungkin memang mabuk sungguhan itu tidak berpikir panjang untuk masuk ke dalam sana.

Gelap dan sunyi. Rose tidak bisa melihat apa pun. Kepalanya juga terlalu pening. Ia hanya berhasil menangkap keberadaan sebuah sofa panjang dan berjalan ke arah benda itu. Merebah setelah melepas sepatu haknya dan menjatuhkan tas kecilnya ke atas lantai.

"Air."

Meracau lirih dalam pejaman kedua mata.

"Beri aku air!"

Di situlah kemudian terdengar suara deritan pelan. Pintu ruangan di ujung sana terbuka, sinar dari dalamnya menyorot samar sehingga tercipta bayangan laki-laki yang berjalan mendekat secara perlahan.

"Aku haus. Tolong, ambilkan aku air!"

Sesaat hanya berdiri, sosok itu beranjak lalu kembali untuk meletakkan segelas air di meja kaca, di dekat jangkauan tangan Rose. 

Memungut benda-benda yang teronggok di atas lantai. Tas diletakkan di atas meja. Sepasang sepatu hak ditata di dekat kaki sofa.

Tak lupa, sebelum mengambil jaket dan topi lalu pergi, ia mengatur suhu pendingin ruangan.

Sebab ini adalah musim panas dan ia sempat menemukan beberapa bulir keringat bertengger di wajah dan lengan Rose.

Harapannya masih dan akan selalu sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia ingin perempuan itu tidur dengan nyenyak dan damai. 

[]






***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***



notes:
hehehe, semuanya masih sama gengs
maksudnya perasaan mereka :')

semoga ego dan gengsinya
udah punah ya

:))


BITTERSWEET [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang