Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Season Two | 07 a chance before two years
November 2024
Banyak pelukan yang Jaehyun terima. Ucapan selamat jalan dan doa-doa pun terdengar tak kalah seringnya. Dari mereka: keluarga, rekan, kerabat, dan saudara.
Benar bahwa sebentar lagi adalah tanggalnya. Meninggalkan kesibukan demi menunaikan kewajiban sebagai salah seorang warga negara.
Maka, ketika masanya hanya tinggal menghitung jam dan menit, Jaehyun mengemasi barang-barang yang diperlukan. Pergi memangkas rambut hingga cepak. Membeli bahan makanan untuk pesta perpisahan sederhana dengan teman-temannya.
Berbincang, bercanda, berfoto ria. Jaehyun menjadi manusia yang banyak bicara di dalam forum sepanjang pesta seolah ia adalah yang paling baik-baik saja di antara mereka yang bersedu sedan menyayangkan pamitnya.
Seolah wajib militer dua tahun bukanlah apa-apa.
"Mungkin, ini cara terbaik untuk melupakannya," ucap Jaehyun kepada mereka yang paham betapa berantakannya ia di satu tahun belakangan.
Agar ia benar-benar berhenti.
Tak lagi mengejar, tak lagi mencari.
Usaha untuk membuat Rose menoleh lagi tidak pernah berhasil. Justru, perempuan itu semakin jauh tak tersentuh sejak hari di mana unit di lantai tiga bukan lagi menjadi huniannya.
Jaehyun sempat melihat beberapa orang petugas jasa angkut barang berbodong datang ke sana. Hari itu, ia mengetahui fakta mencengangkan bahwa Rose memutuskan untuk pindah. Mereka tidak lagi satu gedung apartemen.
Entah pindah ke mana. Sampai hari ini, Jaehyun masih belum tahu juga.
Hatinya penasaran, tetapi akal laki-laki itu membelot supaya tidak mencari tahu.
Malam sehabis pesta, pilihan Jaehyun mengunjungi kamar apartemennya untuk beristirahat sebelum esok tiba nampaknya adalah buruk. Seharusnya, ia memilih tempat istirahat lain agar tidak terusik oleh bayang-bayang masa silam yang terekam abadi di setiap sudut tempat ini.
Seharusnya, ia tidur di asrama saja, agar tidak mendengar bisikan-bisikan halus yang memintanya menjumpai seseorang.
Ini adalah kesempatan terakhir. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Kamu pasti akan sangat merindukannya.
Lama-lama, Jaehyun merasa pengang dan gila.
Duduk di atas ranjang, di tengah kegelapan. Ponsel telah siaga di tangannya, tetapi berulang kali ia menghela napas dan menengadahkan pandang ke atas seolah mengumpulkan kepercayaan diri.