Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Season Two | 09 there's nothing fun after you're gone
Mei 2026
Ini masih mengganggunya, meski kejadiannya sudah seminggu berlalu.
Beberapa hal terasa tidak masuk akal, tetapi benar. Bahwa pagi itu ia terbangun di atas sebuah sofa, di dalam unit apartemen yang telah lama ia tinggalkan.
Bagaimana ia bisa masuk ke sana? Mengapa sandi pintunya masih sama, masih sederet angka istimewa, 280720?
Bukan. Mengapa ia pergi ke sana dan mengapa ia masih ingat nama jalan, nomor gedung, nomor unit, sampai sederet angka itu adalah yang paling tidak masuk akal.
Anggap saja, Rose memang mabuk. Alam bawah sadarnya lah yang bekerja atas itu semua.
Namun, begitu bicara tentang gelas berisi setengah air yang teronggok di meja ketika ia terbangun, tentang tas dan sepatunya yang ia ingat tergeletak asal malamnya tetapi tertata rapi esoknya, juga tentang aroma yang menyapa penciumannya,
yakin saja, ada hal lain yang mendorong perempuan itu sampai ke sana. Semacam perasaan rindu.
Ia merindukan tempat itu.
Merindukannya.
Tidak bisa disangkal.
Bahkan akal Rose menerjemahkan bayangan seseorang yang nampak samar malam itu sebagai sosoknya. Entah ini benar ataukah sebatas ilusi saja.
Jaehyun ada di sana, Jaehyun adalah pemilik tempat itu yang baru. Ini baru dugaan, tetapi Rose sudah merasa gila.
Ia menyesal tak bertanya dengan jelas pada pemilik gedung yang sempat ia jumpai sekeluarnya dari tempat itu. Ia hanya sempat bertanya, "Apakah unit ini sudah disewa?"
Lelaki yang ia tanya mengangguk, "Seseorang menyewanya tak lama setelah Anda pindah."
Hanya itu saja.
Rose sempat berdiri lama di depan pintunya, sempat hendak menekan seder digit angka pada papan pintar, sempat ingin kembali masuk ke dalam sana untuk memastikan tetapi sial. Ponselnya berdering. Ia harus bergegas pergi ke tempat kerja.
Mengompos lagu jadi pekerjaan yang Rose tekuni belakangan. Lebih nyaman untuknya yang sedang ingin lengang dari eksistensi di atas panggung dan di balik laca.
Ia punya ruangan pribadi di dalam gedung labelnya. Memungkinkan untuk menonton serial film kesukaannya atau mengenang hal-hal menyenangkan di sela-sela waktu bekerja. Selain itu, ruangan tersebut juga banyak merekam aksi penyesalan yang kadang disertai dengan tangisan.