S2| 10: their eyes haven't locked in ages

994 94 97
                                        


Desember 2026


Satu pagi pada bulan Mei di tahun ini telah berhasil menyambung dahan yang pernah dipotong paksa tanpa kehendak menawar.

Kala itu, Rose datang bukan oleh paksaan, lalu untuk pertama kali mereka kembali bertatapan mata, membuka percakapan, bahkan duduk untuk sarapan setelah sekian lama tenggelam di dunia yang seolah-olah berbeda.

Memang, tidak ada pernyataan rindu atau ajakan untuk kembali bersama dari mulut keduanya. Namun, di apartemen ini, tempat yang sudah beralih kepemilikan, telah dibangun sebuah 'gerbang' dalam waktu semalam.

"Kamu boleh datang berkunjung kemari kapan pun kamu ingin," ucap Jaehyun pada dia yang bertahan sejenak untuk merekam sudut-sudut tempat ini—sofa, televisi, jendela, bahkan vas bunga—sebelum pergi.

Pernyataan itu diucapkan lirih, nyaris tanpa harap.

Dan, siapa sangka jika setelahnya, di antara jadwal kerja yang yakin saja masih juga tak lengang meski panggung dan layar sudah banyak dihiasi idola generasi baru, Rose benar-benar datang ke sana; sekedar duduk untuk menikmati secangkir teh, tayangan di televisi, atau pemandangan kota di malam hari—Jaehyun membebaskan.

Selalu ada kabar yang Jaehyun terima sebelum kedatangannya—yang pertama sempat membuat Jaehyun meletakkan sumpitnya untuk membalas pesan si perempuan lalu menyingkir terburu-buru dari restoran tempat renuninya dengan kawan-kawan grup.

Menelpon, mempersilakan Rose masuk duluan selagi dia belum tiba, mengatakan, "Kode aksesnya masih sama, masih tanggal jadian kita."

Dari situ, gerbang terbuka lebih lebar.

Lalu, malam ini, malam yang seharusnya direnungkan bersama keluarga, sahabat, dan orang-orang tersayang; lima hari sebelum perayaan Natal; kepulangan Jaehyun dari studio rekaman album comeback grup-nya mendatang, lagi-lagi, disambut oleh sepasang sepatu hak yang tergeletak rapi di dekat pintu.

Tanpa pernah Jaehyun mengingatkan tentang kode akses yang sewajarnya dilupakan, tetapi lihat!

"Kau datang?"

Ruangan remang sebab lampu utama tak dinyalakan, hanya lampu-lampu di sudut yang nyaris kehilangan nyawa. Pohon Natal di sudut belum sempat Jaehyun hias belakangan, kini tengah ditekuni Rose, dipasangi pernak-pernik yang tidak lebih menyala dari sweater fushianya.

Dia menoleh, tersenyum. Manis, selalu—ah kali ini lebih manis, lebih tenang, lebih memesona daripada di layar. Terbuka mulut itu, sebelum Jaehyun lebih dulu menyela seraya membuka sepatu dan mantelnya.

"Kenapa tidak memberi kabar?"

Ini sungguh tiba-tiba, meski yang sudah-sudah pun demikian, tapi kabar dari Rose yang kerap datang satu atau dua jam atau bahkan lima belas menit sebelumnya sangat berarti bagi Jaehyun—setidaknya untuk menyalakan penghangat ruangan dari kontrol pintar yang terhubung dengan ponsel, berbelanja makanan, atau sekedar menata debar jantung sendiri yang tak pernah bisa rapi jika menyangkut dengan dia.

"Baterai ponselku habis," jawab perempuan itu, tenang, sangat tenang.

Jaehyun akui, Rose jauh lebih tenang daripada saat mereka berjumpa terakhir kali, dua tahun lalu—seperti dia memang benar-benar didewasakan waktu.

"Maaf, ya, agak lancang." 

Tak segan memahat penyesalan di wajahnya yang tetap jelita tanpa pernah dimakan usia, nyaris seperti tak nyata terlebih ketika Jaehyun menyalakan lampu yang membuat ruangan menjadi benderang.

BITTERSWEET [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang