39

10.7K 735 23
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







“Ya, Nathan kemarin sudah izin padaku. Dan aku mengizinkannya karena biasanya mereka sering pergi ke luar bersama. Tapi Nathan, pulang jangan malam-malam,” ucap Rachel menasihati anaknya.

“Baiklah, Daddy juga akan mengizinkanmu. Ingat nasihat Mommy.” Kendrik turut memberi izin. Nathan menganggukkan kepalanya, menerima semua nasihat orang tuanya. Ada pun Ersya yang kini cemberut. Hei, kalian lupa kah dengan Ersya.

.........

“Ersya diajak, kan? Iya kan?”

Sosok yang cemberut sedari tadi kini mulai menyuarakan keinginannya. Sedikit terkejut mendengar bahwa Nathan disetujui begitu saja oleh yang lain. Lalu? Kenapa dulu ia harus merayu sang Daddy. Bahkan Nathan tak merayu pun disetujui begitu saja. Aneh.

Dulu saat ia ingin bermain bersama temannya, ia harus menelpon Daddy-nya yang masih berada di perusahaan untuk meminta izin, belum lagi ia mendapat penolakan. Harus merayu dulu. Melihat Nathan yang langsung disetujui seperti ini, membuat bibir Ersya semakin maju beberapa senti. Semakin dipikir, semakin cemberut ekspresinya.

“Emang diajak?” Liam mengatakan itu dengan nada yang terdengar meremehkan. Tanpa menunggu jawaban dari Nathan, ia sudah tahu ke depannya akan bagaimana. Bukankah semua ini sudah jelas.

“Abang Devin … bang Liam,” adu Ersya sembari menunjuk-nunjuk Liam dengan raut muka garangnya. Ini membuktikan jika ia beneran kesal atas ucapan Liam. Biasanya abangnya itu diam saja dan jarang menimpali, sekalinya menimpali malah membuat Ersya kesal.

Dingin dingin mengesalkan, itulah Liam. Liam yang ditunjuk seperti itu hanya menaikkan sebelah alisnya. Berani sekali jari mungil itu menunjuk-nunjuk dirinya.

“Kenapa? Bang Liam benar, kan,” balas Devin. Bukannya menyurutkan kekesalan Ersya, malah semakin menaikkannya. Muka Ersya semakin tertekuk dalam. Mulutnya mulai terbuka, bersiap mengeluarkan suara nyaring yang bisa merusak gendang telinga mereka.

“Jangan berteriak, Ersya!” Nah, kan. Belum juga melaksanakan niatnya, Ersya sudah mendapat teguran dari abang sulungnya—Barra Leonard. Dengan aura tegasnya, Barra menegur Ersya yang menurutnya tidak sopan kepada yang lebih tua, apalagi menunjuk-nunjuk Liam tadi.

Ersya hanya bisa cengengesan tak jelas. Sudah dibilang, hanya Kendrik dan Barra saja yang ditakuti oleh Ersya. Barra tetap memfokuskan pandangannya ke Ersya, sorot matanya tak teralih. Dengan gerakan kepala yang halus, Barra memberikan isyarat kepada Ersya untuk meminta maaf kepada Liam atas perilaku tidak sopannya tadi.

Ersya yang tak mau abangnya semakin menatapnya dengan tatapan sok tajam itu—menurut Ersya sih. Biasalah, Ersya iri jika melihat abang-abangnya keren, adiknya juga. Ersya berjalan mendekat ke arah Liam. Mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman.

“Maaf bang Liam, maaf, ya. Iya tidak apa-apa,” ucap Ersya dikala mengatakan maaf lalu dibalas sendiri permintaan maaf itu. Tak hanya itu saja, Ersya dengan semangat mengajak Liam salaman hingga tangan Liam dibuat naik turun seiring Ersya mengayunkannya.

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang