44

8.6K 752 153
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Keramaian  berasal dari teriakan di  lapangan tak memengaruhi fokus Barra pada objek yang tengah ia soroti sedari tadi. Kedua pasang mata yang terlihat dingin itu tampak terpaku pada handphone milik Ersya. Aura pekat menyelimuti sekitaran Barra—dingin, gelap, mencekam, dan diliputi amarah—semua menjadi satu.

Kemarahan seorang Barra Leonard yang selalu membuat Ersya takut. Menurut Ersya, kemarahan dari abangnya itu tak jauh berbeda dengan sang daddy. Sepertinya Ersya akan mendapatkan kemarahan itu lagi.

Ersya dan yang lainnya tak menyadari perubahan suasana drastis tersebut. Entah apa yang akan terjadi pada Ersya, biarkan dirinya menikmati hari liburnya dengan bermain bersama abang dan adiknya. Tanpa memikirkan hal lain, termasuk nasibnya sebentar lagi.

Ekspresi Barra semakin mengeruh. Rahangnya mengeras serta kepalan tangannya semakin mengerat di dalam saku celananya.

‘Mommy Vira’

Ck, panggilan yang cukup menjengkelkan. Bagaimana bisa Ersya memberi label ‘Mommy’ pada wanita itu. Sebelum layar handphone Ersya kembali menghitam. Ia sempat membaca pesan yang tertera di layar. Tanpa harus menyentuhnya, tanpa mengambilnya, ia dapat membacanya.  Sebuah pesan yang menanyakan kabar, seakan-akan mereka terbiasa untuk saling tukar kabar?

Daripada itu, ia lebih penasaran dengan Ersya yang mengetahui bahwa Vira adalah mommy kandungnya.

Bagaimana bisa Ersya mengetahuinya?

Apakah mereka pernah bertemu?

Sejak kapan mereka saling tukar pesan?

Dan bagaimana ia dan lainnya tak mengetahui hal ini?

Geraman rendah terdengar dari Barra. Ekspresi kemarahan tampak jelas di raut mukanya. Namun, Barra tak langsung marah besar, ia tetap menjaga wibawanya. Meskipun sorot matanya sudah menandakan bahwa ia kini sedang diliputi amarah besar.

Sejenak ia kembali melihat ke arah lapangan. Matanya menyipit—menyorot dingin gerak-gerik Ersya. Ternyata adiknya tidaklah sepolos itu. Di balik tingkah polosnya, ternyata menyimpan sesuatu yang cukup membuat masalah keluarga ini terbuka kembali. Berani sekali adiknya itu menyembunyikan semua ini dari keluarganya.

Barra ingat terakhir kali Ersya menanyakan keberadaan mommy kandungnya. Saat itu Ersya masih kecil. Situasi di mansion keluarga Leonard masih diliputi kegelapan yang mengandung amarah. Terlebih perusahaan milik keluarga Leonard sempat terkena masalah, hal itu semakin membuat yang lain emosi. Masalah berdatangan silih berganti. Namun, mereka tetap memanjakan Ersya, memperlakukan Ersya sebaik mungkin. Ersya—bungsu Leonard yang tak tahu menahu tentang semua hal. Memfasilitasi Ersya dengan barang mewah, mengabulkan semua yang diinginkan Ersya, akan tetapi sifat possessive dan rotektif mereka tetap melingkupi dunia Ersya.

Ersya menjadi kesayangan mereka. Karena di tengah-tengah permasalahan yang terjadi, hanya Ersya yang bisa membuat mereka terhibur dengan tingkah lakunya. Kehadiran Ersya seakan-akan menjadi sisi terang dari keluarga ini. Begitulah mereka memperlakukan Ersya.

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang