Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah melewati akhir pekan bersama keluarga Mahatma, kini mereka harus kembali ke rutinitas seperti biasanya. Rangga yang akan berangkat bekerja di perusahaannya, Vira yang terkadang pergi bersama teman sosialitanya, tetapi terkadang ikut sang suami untuk pergi ke kantor, bisa dibilang Vira tak memiliki kerjaan. Kemudian Ersya dan Mira, mereka akan kembali masuk sekolah. Selama itu, Ersya mencoba akrab dengan keluarga ini, beradaptasi dengan lingkungan baru. Bukan hal yang berat baginya, karena Ersya suka mencoba hal baru.
Mansion Mahatma tentu saja terlihat megah dengan segala interior mewah yang memanjakan mata. Dan Ersya sudah terbiasa akan semua itu, mengingat mansion Leonard tak jauh megah dengan ini. Meskipun sama-sama megah nan mewah, tempat yang nyaman untuk dihuni, tetap saja ada yang membedakan di antara keduanya.
Suasananya. Perbedaan yang cukup signifikan antara kedua mansion itu. Mansion Leonard yang diselimuti oleh aura pekat yang menusuk, lontaran penuh keposesifan, tatapan yang mengintimidasi, dan sikap dingin. Sangat jauh berbeda dengan di sini. Tidak ada aura seperti itu, hanya ada kedamaian, tenang, dan tak ada kekangan. Dan Ersya merasa saat ini pilihannya adalah benar. Untuk ikut bersama Vira, ia mendapatkan semua ini. Afeksi yang diberikan Vira padanya cukup mengobati kerinduannya selama ini. Itu saja sudah cukup bagi Ersya.
Oh, ralat. Di balik suasana tenang dan damai yang dirasakan Ersya saat ini, ada setitik aura permusuhan berasal dari Mira Mahatma.
Sekarang ini mereka berada di ruang makan untuk sarapan bersama sebelum memulai aktivitas masing-masing. Suasana tenang menyelimuti ruang makan, sesekali obrolan ringan mengalir membuat suasana tidak terlalu canggung. Seragam yang dikenakan oleh Ersya dan Mira tampak kontras, tentu saja sekolah mereka berbeda.
Tatapan tak bersahabat dari Mira selalu dilayangkan ke Ersya. Begini-begini Ersya tahu jika Mira itu tak menyukainya. Mungkin karena baru bertemu, bisa jadi. Ia juga sudah mencoba mengakrabkan diri pada Mira. Namun seakan-akan Mira membangun tembok tinggi sebagai penghalang kokoh antara mereka.
Ya, mau bagaimana lagi. Yang penting ia sudah berusaha. Masalah ditanggapi atau tidak, di luar kendali Ersya. Dan Ersya mencoba abai dengan aura permusuhan itu. Yang terpenting baginya adalah menikmati hidup barunya bersama mommy kandungnya. Itu saja, sebuah harapan sederhana yang muncul di tengah-tengah konflik keluarga tak berujung.
Dan Ersya tak ambil pusing akan konflik itu, ia juga tak ingin tahu. Ersya hanya … berambisi untuk apa yang ia harapkan selama ini.
Beberapa menit telah berlalu. Tidak langsung beranjak, mereka masih setia duduk sembari melontarkan obrolan ringan. Lagi pula masih ada beberapa menit untuk berangkat. Mereka tidak akan telat.
“Mira sayang. Kenapa tidak dihabiskan?” tanya Vira melihat piring Mira yang makanannya belum habis, atau tidak habis. Kebiasaan putrinya, jika makan selalu tak habis.
“Enggak, Mommy. Mira kenyang,” balas Mira dengan nada yang dibuat manja.
Reflek Ersya menggosok-nggosok telinga kirinya, kenapa terdengar menggelikan baginya. Tak lupa tatapan mata yang terkesan julid disertai bibir yang manyun ke atas.