50

7.2K 634 92
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Masih ada beberapa menit untuk pembelajaran dimulai. Suasana kelas kian ramai seiring berjalannya waktu. Ramai akan perbincangan siswa-siswi, termasuk teman-teman Ersya yang berada di belakang.

Berbeda dengan suasana di bangku milik Ersya dan Nathan. Keduanya memilih diam. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Nathan duduk dengan tubuh menyender malas ke sandaran kursi, tatapannya datar menyorot ke handphone yang ia mainkan. Aura dingin terpancar di sekeliling tubuhnya, membuat Ersya yang berada di sampingnya bergidik ngeri.

Sedangkan Ersya? Meliarkan pandangannya seolah-olah mencari kesibukan. Sesekali melirik ke arah Nathan melalui ekor matanya. Untuk saat ini, ia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Nathan. Ia juga tak berani bertanya lebih jauh mengenai kabar keluarganya di mansion. Meskipun rasa penasaran melingkupi dirinya.

Keduanya tak  ada yang berinisiatif memulai perbincangan. Ersya semakin merasa kecil. Jelas auranya tak sebanding dengan milik Nathan—tersirat ketegasan yang sama seperti abangnya.

Masih ada beberapa menit sebelum guru masuk, mungkin memang ia harus memilih opsi yang sempat ia tebak tadi. Tampaknya pindah secara sukarela adalah jawaban yang tepat untuk saat ini. Menghindari perdebatan yang takutnya semakin memperkeruh keadaan.

Memantapkan hatinya, Ersya menganggukkan kepalanya dengan yakin. Tiba-tiba sebuah handphone yang terlihat mahal diletakkan di depannya. Niatan Ersya untuk pindah teralihkan dengan  keberadaan handphone itu. Reflek Ersya melihat ke arah Nathan yang kini juga memperhatikannya dengan tatapan datar khasnya.

Berniat menanyakan maksud dari tingkah Nathan, ingin bertanya banyak, tetapi apa yang ia niatkan tak seperti apa yang ia lontarkan. “Hah?” Raut muka kebingungan tercetak jelas. Menatap ke arah handphone itu dan Nathan secara bergantian.

“Dari bang Barra.” Nathan menjawab rasa penasaran Ersya terkait handphone itu. “Menggantikan handphonemu yang sudah dia rusakkan, juga sebagai permintaan maaf,” sambung Nathan tanpa basa basi.

Kening Nathan mengerut saat melihat Ersya yang terdiam dengan wajah yang melongo. Adakah yang salah dengan ucapannya? Kenapa Ersya tak kunjung menjawab? Atau Ersya tak suka dengan bentukan handphone itu?

Jika iya, jangan salahkan dirinya. Ia hanya disuruh oleh bang Barra untuk memberikannya pada Ersya. Sekalian meminta maaf atas kejadian tempo lalu.

Berhubung di antara keluarganya, hanya ia yang bisa dekat dengan Ersya di luar mansion.  Meskipun Ersya sekarang tinggal jauh dari mereka. Tak hanya Barra saja, ia juga berniat meminta maaf. Karena saat itu ia sempat membuat Ersya terjatuh. Namun, Ersya tak kunjung menjawab perkataannya. Apa Ersya terlanjur membenci mereka?

Nathan dengan pikiran yang melayang ke hal buruk dan Ersya yang teramat terkejut atas kejadian ini. Abang Barra membelikannya handphone baru sebagai pengganti handphone lama? Yang lebih mengejutkan adalah permintaan maaf dari abangnya itu. Benarkah? Abangnya itu tidak apa-apa, kan?

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang