Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Tuan. Di depan ada tuan Rangga dan nyonya Vira. Mereka meminta bertemu dengan Anda,” ucap bodyguard itu.
Ruangan seketika hening. Perdebatan tak lagi menjadi fokus mereka. Keheningan yang menggantung, diselimuti oleh ketegangan yang terasa mencekik leher mereka.
Gejolak amarah tampak mendominasi ruangan. Bahu yang menegang, rahang mengeras, percikan-percikan dendam mulai menyulut emosi mereka saat nama itu tersebut dari mulut bodyguard.
Atensi semua orang terpaku pada bodyguard itu. Berbagai ekspresi ia dapatkan. Jujur, membuat bodyguard itu sedikit gugup. Namun, masih tetap mempertahankan ketegapan tubuhnya.
Kendrik tak bisa menahan emosinya mendengar laporan bodyguard. Kedua kepalan tangannya mengerat. Rahangnya mengeras, matanya menyipit kesal, aura dingin menguar dari tubuhnya. Keadaan semakin memburuk.
Sedangkan Ersya yang berada di belakang tubuh Kendrik hanya mengedipkan matanya berkali-kali.
Mommy Vira ke sini? Untuk apa? Tanpa sadar, senyuman terbit di bibirnya. Seperti mendapatkan sesuatu yang menarik.
Rachel awalnya terkejut dengan laporan itu. Namun hanya sebentar, kesadarannya mulai mengambil alih tubuhnya. Reflek Rachel menoleh ke Ersya. Di sana, Ersya tersenyum saat mendapat laporan itu. Hah, urusan ini pasti akan panjang.
“Jaga ucapanmu!” Barra mendekat dan menarik kerah bodyguard itu. Menekannya agar tak main-main dengan ucapannya. Ke sini? Ke mansion ini setelah bertahun-tahun pergi. Keberanian wanita itu patut diapresiasi.
Mendengar jika nama itu disebut, sudah membuat Barra emosi. Apalagi nanti jika bertemu. Tidak perlu bertanya lagi, pasti tahu jawaban keluarga Leonard.
Ersya awalnya ingin berlari keluar dan menyambut kedatangan Vira. Benarkah Vira datang ke sini? Apa untuk menemuinya?
Apa mommynya itu peduli padanya? Semakin memikirkannya, semakin lebar senyuman Ersya. Ternyata apa yang ia pikirkan tadi tidak benar. Ia kira Vira tidak akan peduli padanya. Ternyata mommy Vira tidak seburuk itu, pikirnya.
Mau pergi keluar, tetapi suasana di ruangan ini terasa menekannya. Begitu mendominasi, membuat siapa pun bertekuk lutut. Menyadari bahwa situasi tak mendukung. Ersya melunturkan senyumannya, semakin bersembunyi di belakang tubuh sang daddy. Tangan kanannya mengelus tangan kirinya. Ekspresi lugu terlihat di raut muka Ersya. Diam menyimak keluarganya. Melihat ekspresi abangnya yang suram dan juga Nathan yang tak jauh berbeda, lebih baik Ersya diam daripada salah terus.
Nathan ...
Ersya tak menyangka jika adiknya itu akan mendorongnya dengan begitu kuat. Terbiasa dilindungi olehnya, tentu Ersya terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu. Ersya ... tak pernah membayangkan akan diperlakukan seperti ini oleh Nathan.
Tampaknya Nathan kini membencinya karena telah membuat mommy Rachel bersedih. Jujur, ia tak tahu jika belakangan ini sikapnya membuat mommy Rachel bersedih. Niatnya ingin menjelaskan semua dan meminta maaf. Namun, Nathan seakan tak mengizinkannya mendekat pada mommy Rachel.