51

8.7K 593 105
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.










Flashback.

Hari itu, saat Ersya berhasil pergi bersama keluarga Mahatma. Terjadi keheningan yang cukup lama di ruang tamu. Di sofa panjang, terdapat Kendrik yang menyenderkan badannya pada sandaran sofa, tangan kanannya ia sanggah di senderan tersebut, jarinya memijit pelan dahinya. Pusing seketika mendera kepalanya. Ada rasa tak terima yang tertahan.

Di sampingnya ada Rachel yang turut menyenderkan badannya di sandaran sofa. Mulutnya terkatup, matanya menyipit kesal, dahi yang mengerut, kedua tangan  bersedekap dada, serta kaki yang disilangkan. Tampak sedang memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah ini.

Jika dibilang menyesal atas keputusannya, tentu saja tidak. Ia sudah merencanakan yang lain. Di saat suami dan anak-anaknya terbakar emosi dan tak bisa berpikir secara rasional, hanya ia yang bisa memahami sekaligus memikirkan rencana yang tepat.

Meskipun risikonya harus berjauhan dengan Ersya. Tidak apa-apa, untuk mencapai keinginan  harus mengorbankan sesuatu, kan. Dan Rachel yakin jika Ersya tak aka lama di sana.

Di seberang, Liam turut menyenderkan badannya pasrah, kepalanya menengadah, tatapannya seolah-olah mengatakan  kenapa semua ini bisa terjadi. Begitu pun dengan Devin yang terdiam dengan rahang mengeras. Pikirannya berkecamuk. Rasa ingin meyelesaikan urusan dengan caranya sendiri begitu besar.

Saat semua yang terjadi begitu melenceng dengan apa yang ia inginkan, emosi seketika menyelimuti dirinya. Namun saat akan melampiaskannya, ia tak bisa. Karena mommy Rachel yang membuat keputusan itu. Segan rasanya jika menyela begitu keras. Ia mengenal seorang Rachel. Mommynya itu pasti memiliki maksud lain atas keputusannya.

Nathan duduk dengan kedua sikunya disanggah di atas lutut. Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Sesekali menyugarkan rambutnya ke belakang karena perasaan frustasi. Tak pernah ia bayangkan jika harus tinggal di sini tanpa ada Ersya.

Memikirkan Ersya pergi jauh dari mereka saja tidak pernah. Meskipun ia tadi sempat  emosi dan  … ya … mencelakakan Ersya, tetap saja ia tak terima jika Ersya ikut bersama keluarga itu. Sedikit menyesal juga karena Ersya pergi bersama keluarga Mahatma setelah mendapat kesan buruk darinya. Bukankah membuat keadaan semakin runyam. Ia memang anak kandung dari Rachel, tetapi ia tak bisa menerka-nerka pola pikir mommynya itu.

Tentu saja tidak bisa, karena Nathan yang kepalang emosi  tak bisa berpikir jernih. Sama seperti daddy dan abangnya, mendahulukan emosi pribadi dibanding perasaan orang lain.

Terakhir, ada Barra yang duduk di single sofa. Sedikit jauh dari yang lain, menjaga jarak. Tatapan dinginnya menyorot ke arah lantai marmer di bawah. Sorot mata yang menyimpan rasa emosi yang tak terkendali. Rahangnya mengeras, giginya bergemelatuk, tangannya terkepal erat sampai urat-uratnya menonjol.

Jika kalian ingin tahu apa yang sedang ia pikirkan, Barra ingin menyeret Ersya kembali ke sini dan memberi pelajaran bagi keluaraga itu. Tak ada perdamaian di antara mereka. Hanya ada perselisihan yang tak berujung.

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang