54

5.8K 526 58
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







Suasana dingin semakin menyelimuti ruang makan di mansion Leonard. Tak ada sepatah dua patah yang keluar untuk menyambut kedatangan Barra, masih terbelenggu dengan penekanan Barra melalui tatapan serta aura yang menguar dari dirinya. Begitu cepat menyebar ke seluruh ruangan.

Tak ada yang memulai percakapan jika tidak Rachel yang memulainya. Sebelum itu, Rachel sempat menatap yang lain—menunggu reaksi mereka.

Abang sulung mereka telah pulang, tetapi tak ada sambutan sama sekali dari adik-adiknya. Apakah hubungan mereka memang sekaku itu? Sama-sama bermuka datar—tanpa ekspresi. Lalu menoleh ke arah suami yang tak jauh berbeda dengan anak-anaknya.

Ck, sama saja. Tak bisa diandalkan. Jika ia tidak memulai percakapan, pasti mereka akan diam-diaman sepanjang malam.

“Barra, tumben pulang jam segini? Ayo duduk, mommy ambilkan makan,” sambut Rachel setelah keheningan sempat melanda untuk beberapa saat.

Tak ayal rasa penasaran membuat keningnya mengernyit. Ingin sekali mencecarnya dengan pertanyaan, tetapi tampaknya itu ide yang buruk. Menyambut Barra terlebih dulu adalah pilihan yang tepat dan langkah yang benar. Pun, untuk meredakan emosi yang menguar begitu kuat itu. Kali ini apalagi penyebab kemarahan sang sulung Leonard?

“Makan, Barra!” titah sang kepala keluarga pada anak sulungnya. Tak memedulikan emosi yang menggebu-gebu dari diri Barra. Terlampau kebal, apalagi di sini tidak ada Ersya—bungsu kesayangan keluarga Leonard.

Tak ada satu usaha pun untuk meredam atau menenangkan amarah anak-anaknya, Kendrik tak peduli. Selama tidak membuat keributan. Kendrik tak terpengaruh oleh aura-aura itu. Tentu saja, Kendrik adalah kepala keluarga. Bahkan bisa lebih tegas dari yang lain.

Memang, sih, Kendrik tak terpengaruh oleh aura itu. Setidaknya tolong pikirkan kondisi para pekerja di sini. Begitu tertekan, dibuat tertunduk, perasaan takut salah langkah selalu menghantui mereka. Membuat kesalahan sekecil apapun saat kondisi mansion sedang kacau, bisa menjadi kesalahan besar.

Jelas sekali penyebab perubahan drastis di kediaman Leonard. Dari yang awalnya memang berisi anggota keluarga yang sama-sama bermuka datar, bersikap dingin dan kaku, kini semakin memperlihatkan sikap tersebut.

Untuk saat ini mereka menggunakan rencana Rachel. Kita lihat sampai mana kesabaran keluarga Leonard dan seberguna apa rencana istrinya itu. Namun jika selama itu tak ada perubahan sama sekali, maka Leonard akan menggunakan caranya sendiri.

Anggap saja keluarga ini memberi kebebasan pada Ersya, ya … meskipun sebentar. Toh, ujung-ujungnya juga Ersya akan kembali ke mansion ini. Leonard hanya mempercepat saja. Kembali ke mansion, untuk selamanya. Tinggal menunggu waktu, kita lihat rencana siapa yang lebih berhasil. Bersaing dengan keluarga Mahatma bukan suatu masalah besar.

“Tidak, Mom, Dad.” Barra menolak untuk duduk dan bergabung dalam acara makan malam. Tidak ada waktu santai baginya. Ia ingin cepat-cepat mengutarakan maksud kedatangannya. Setiap kali ia menerka-nerka, semakin menyulut emosi di dalam dirinya. Rahangnya mengatup kuat, napasnya memburu, tatapannya menusuk. Kepalan tangannya semakin ingin meremukkan handphone yang sedang ia genggam.

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang