Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak terasa hari sudah sore. Hawa dingin mulai terasa di udara. Mobil mewah memasuki kawasan mansion Mahatma. Mobil itu berhenti. Pintu depan terbuka dan muncullah sang sopir yang sigap membukakan pintu belakang di mana nona mudanya berada.
Sepasang kaki berbalut sepatu berwarna putih keluar mobil terlebih dulu, mulai terlihat badan yang mungil dengan pakaian branded yang terkesan elegan, rambut tergerai indah. Keluar dari mobil dengan percaya diri. Menunjukkan kecantikannya pada semua orang.
Mira Mahatma adalah anak tunggal dari pasangan Rangga dan istrinya yang telah meninggal. Maka dari itu, Rangga sangat sayang pada anaknya. Selalu memanjakan Mira dengan harta mewahnya. Tentu Mira sangat bergantung pada sang daddy. Sampai Vira datang ke kehidupan mereka dan melengkapi keluarga ini.
“Daddy, Mommy. Mira pulang.” Teriakan itu menggema begitu lantang di ruang tamu yang sunyi. Hanya ada beberapa maid yang sedang mengerjakan tugasnya, melihat ada nona mudanya, lantas mereka membungkukkan badannya.
Mira mengabaikan perlakuan maid-maid itu. Sudah biasa baginya, tak perlu diindahkan. Sepasang mata milik Mira menyapu sekitar. Tak melihat keberadaan orang tuanya.
"Mungkin di atas.” pikirnya. Biasanya mereka akan menyambutnya, ya … meskipun dengan sedikit omelan dari sang daddy tentang ia yang selalu pergi keluar. Mira sudah kebal akan omelan itu. Hari ini mendengar, besok terulangi. Lagi pula daddynya itu pasti tak serius memarahinya. Daddynya selalu memanjakannya. Jadi Mira seakan menganggap enteng omelan itu.
Tak sabar menceritakan langsung apa yang terjadi pada mereka, Mira langsung mengambil langkah cepat menuju anak tangga. Pandangannya menyapu sekitar. Bukannya pergi ke kamarnya terlebih dulu, Mira langsung menuju ke kamar orang tuanya. Mengetuk pintu itu dengan semangat yang membara di hatinya. Selang beberapa menit, kening Mira mulai mengerut. Menatap bingung pada pintu depan. Tidak ada suara juga di dalam kamar. Apakah orang tuanya sedang berada di ruangan lain?
“Mungkin di taman,” ujar Mira pada dirinya sendiri. Berbalik arah menuju tempat yang ia sebut. Bisa saja mereka sedang bersantai di sana, mengingat hari ini adalah akhir pekan. Ia memang tadi keluar saat mommy dan daddynya pergi, entah ke mana. Ia pun tak tahu. Berhubung mereka pergi, maka ia juga pergi bermain. Semoga saja daddynya tak mengomel lagi. Lagian mereka tadi keluar tak mengajaknya, anggap saja ia sedang merajuk. Haha.
Namun saat akan kembali ke arah tangga, sudut mata Mira melihat seorang maid membawa nampan kosong, sepertinya maid itu akan turun ke lantai satu juga.
Maid yang melihat keberadaan Mira reflek menghentikan langkahnya dan menundukkan kepala. “Nona muda,” ujarnya pada Mira.
Mira menyipitkan matanya melihat nampan itu. Penasaran, tetapi ia tak berniat menanyakan itu lebih lanjut. Hanya nampan, bukan sesuatu yang harus dipertanyakan. Lebih baik ia bertanya mengenai keberadaan mommy daddynya. Itu lebih bagus, tak memperpanjang waktu.