53

7.5K 600 86
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Masih di hari yang sama. Terik matahari tak lagi menyengat seperti beberapa jam yang lalu. Semilir angin mulai berhembus pelan, menciptakan hawa dingin yang dapat dirasakan oleh Ersya. Sudah sore, tetapi mommy Vira tak kunjung pulang. Sebenarnya ke mana mommynya itu?tampak sibuk sekali. Selain bermain, ia berniat ingin menyambut kepulangan mommynya itu. Jika Vira tidak bisa menyambutnya pulang, maka ialah yang akan menyambutnya. Keinginan mulia itu terbit di pikiran Ersya yang selalu memikirkan bermain dan bermain.

Apa yang dilakukan Ersya saat ini? Hanya duduk di bawah pohon yang rimbun. Tadi cuacanya cukup panas, jadi ia berinisiatif untuk mencari tempat teduh. Padahal jika dipikir-pikir, ada pilihan yang mudah, yaitu tinggal masuk kembali ke dalam mansion. Namun karena Ersya suka hal yang lain, jadi ia lebih memilih duduk di bawah rimbunan pohon.

Sempat memeluk batang pohon dengan dramatis, kini Ersya duduk dengan kaki yang ditekuk menutupi dadanya. Kedua sikunya bertumpu pada lutut. Telapak tangannya menyanggah kedua pipinya. Para pengawal yang melihat tingkah Ersya dibuat heran. Tak ada yang bisa memprediksi isi pikiran tuan mudanya itu. Apa enaknya duduk di sana? Dari tadi sampai sekarang tuan mudanya tak kunjung masuk ke mansion. Para pengawal tak menyuruh tuan mudanya untuk masuk, selama tidak melakukan hal berbahaya maka mereka akan diam. Dari kejauhan Ersya tampak kasihan, seperti anak yang hilang.

Tolong jangan mengasihani Ersya. Sedangkan Ersya sendiri menikmati apa yang ia lakukan. Sedikit merasa lelah dan pusing yang tiba-tiba mendera kepalanya.  Rasanya Ersya sudah tak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya lemas. Padahal hanya berlari mengelilingi halaman ini dan memeluk pohon ini. Itu saja, mungkin? Ersya sendiri tak ingat.

“Ternyata seperti itu rasanya memeluk pohon di siang hari,” ujar Ersya lirih. Menikmati momen asing baginya. Terkadang menghirup udara dengan rakus.

“Capek,” keluh Ersya dengan tatapan mengarah ke gerbang besi yang menjulang tinggi. Kapan mommynya itu kembali. Mira juga kenapa belum pulang? Keluarga ini sesibuk itu, ya? Ersya juga sibuk, kok. Sibuk mencari kesibukan. Hm.

Tiba-tiba Ersya rindu mengusili Nathan.

………

Gerbang besi itu dibukakan oleh satpam saat sebuah mobil berada di depan. Setelah terbuka lebar, barulah mobil itu melaju sampai di depan mansion Mahatma. Para pengawal dengan sigap membukakan pintu untuk sang nyonya. Tampaknya tak hanya sang nyonya saja yang berada di mobil, melainkan ada nona muda mereka. Tak biasanya mereka  pulang bersama. Ini adalah mobil milik Vira, dan biasanya Mira akan dijemput dengan mobil lain.

Lantas pengawal lainnya membukakan pintu sebelah kiri. Vira keluar dari mobil dengan anggun. Diikuti oleh Mira yang masih memakai seragam sekolahnya. Tampaknya mereka baru saja berbelanja banyak barang, melihat ada beberapa tas belanja yang dibawakan oleh pengawal. Tampaknya mommy dan anak sama saja, suka berbelanja. Pantas saja mereka cocok. Mungkin sekalian menjemput Mira ke sekolah.

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang