Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam datang membawa keheningan. Gemerisik daun di taman menambah kesan damai. Sunyi, tenang, momen yang pas untuk beristirahat atau sekadar merenung.
Merenungi segala hal yang terjadi. Ketidakadilan yang didapat, kesedihan yang terasa menyesakkan, keputus asaan atas harapan-harapan yang entah kapan akan terjadi. Keheningan memeluk semua perasaan itu, melebur hingga mencapai titik emosional. Hingga pikirannya berputar pada satu pertanyaan, kenapa harus ia yang mendapatkan semua itu.
Kegelapan perlahan menyelimuti. Udara dingin pada malam hari mulai menyapa, cahaya lampu menyinari gelapnya malam. Mansion Leonard tampak megah dan elegan, berdiri dengan wibawa di tengah keheningan malam. Setiap cahaya yang terpancar dari dalam mansion seakan-akan menegaskan kemegahannya di tengah senyapnya malam.
Dari luar tampak terang menyinari bangunan megah ini, tetapi di dalamnya tak seterang itu. Hawa dingin di luar tak jauh berbeda dengan di dalam mansion. Jika di luar terasa dingin karena udara pada malam hari, sedangkan di mansion karena tekanan dari keluarga itu sendiri—dingin yang terasa kosong antara anggota keluarga. Diselimuti keheningan yang menajam.
Semakin hari, semakin menipis pancaran kehidupan di dalam mansion. Para maid tak bisa secara bebas bergerak karena tekanan atmosfer tersebut—penuh ketegangan yang menyiksa, suasana suram yang menambah kesan mencekam, dingin yang bukan berasal dari udara malam hari, melainkan dari sikap anggota keluarga Leonard
Mereka semua tahu mengapa kehidupan di dalam mansion ini berubah secara signifikan dalam sekejap. Dan perubahan itu sangat menyiksa para pekerja, merasakan setiap tatapan tajam dan kemarahan yang terpendam. Suasana dingin yang menyeruak itu tentu karena tidak ada sosok yang selama ini menjadi satu-satunya permata di keluarga Leonard. Sayangnya kini sosok itu tak tinggal di sini.
Sungguh, Ersya yang jauh dari keluarga ini tak pernah terpikirkan oleh mereka. Terkejut, respon para maid saat pertama kali mengetahui hal itu. Bertahun-tahun bekerja di sini, mereka tahu se-protective apa keluarga ini terhadap Ersya. Terdengar mustahil jika melepas Ersya pergi. Pertanyaannya, bisakah keluarga ini hidup tanpa kehadiran Ersya? Dilihat dari sikap anggota keluarga dan suasana suram di sini, mereka sudah tahu jawabannya.
Para maid sangat berharap bahwa tuan mudanya segera kembali. Ini demi kebaikan bersama! Selain itu, mereka juga terlampau rindu dengan segala celotehan Ersya. Yang membuat suasana di mansion ini hidup, bersinar di antara aura gelap keluarganya.
Kamar milik Rachel dan Kendrik tenggelam dalam keheningan di antara keduanya. Menyenderkan punggungnya pada sandaran kasur. Rachel tampak termenung melihat tayangan di layar televisi, sedangkan Kendrik sibuk dengan laptopnya—mengerjakan pekerjaan yang tak kunjung usai.
Berhubung istrinya tak mengamuk saat ia masih mengerjakan pekerjaan malam-malam begini. Istrinya itu … terlihat sibuk dengan pikirannya. Pasti memikirkan Ersya, sebenarnya ia juga, sih. Namun jika waktu dibuat untuk melamun saja, itu membuang-buang waktu. Lebih baik ia menyibukkan diri. Bukan berarti ia tak memikirkan Ersya, ia selalu memikirkannya. Anak bungsunya yang dari kecil sudah bersamanya. Ia rawat sebisa mungkin. Memanjakannya dengan semua fasilitas mewah. Tak hanya itu.