57

7K 563 143
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Ruang makan bernuansa damai, menikmati ketenangan di malam hari, dan mendengarkan percakapan santai antara Mira dan Vira yang mengisi keheningan di dalam ruangan. 

Namun kedamaian itu retak tatkala satu kalimat meluncur tajam dan penuh tuntutan dari Ersya. Sekalinya berbicara, perkataannya mampu membalikkan suasana di ruang makan ini. 

Awalnya hanya perdebatan kecil. Semakin ke sini, situasi semakin memanas di antara keduanya. Sama-sama saling menyerang lewat perkataan. Yang satu menyudutkan, yang satu mengelak. Pengelakan dari satu sisi itu membuat sisi lainnya gencar menyudutkannya. 

Tak ayal, perdebatan itu membuat Vira yang tak mengerti akar permasalahan merasa bingung. Baru tadi ia merasa senang karena keduanya akur, tetapi sekarang … berdebat di depannya langsung. 

“Beritahu Mommy. Handphone siapa yang kalian ributkan!” tegas Vira akhirnya ikut bersuara. Perkataannya mampu membungkam keduanya, membuat Ersya dan Mira tak lagi saling menyahut. 

“Itu punya Ersya,” balas Ersya dengan nada mengadu. Sorot matanya yang tadi berapi-api kini berganti menjadi binar harapan tertuju pada Vira. Berharap bahwa mommynya akan membela dirinya. Membantu permasalahan ini cepat selesai. Meringankan beban pikirannya. 

“Punya kamu? Mommy lihat sebelum turun ke sini, handphone kamu ada di atas nakas. Di kamarmu. Nggak ingat?” tanya Vira menyinggung perihal handphone Ersya. Lebih tepatnya handphone pemberian Rangga. Selain itu, Vira belum tahu. 

Ersya menggelengkan kepala sebagai respons atas pertanyaan yang keliru. Bibirnya maju beberapa senti. “Bukan itu, Mom. Ada lagi,” balas Ersya semakin membuat Vira merasa penasaran. 

“Lalu? Jelasin ke Mommy!” Vira menuntut penjelasan atas perdebatan di antara Mira dan Ersya. Berusaha menengahi permasalahan. 

“Handphone itu kemarin dikasih sama Nathan. Dibeliin bang Barra,” kata Ersya sembari menyusun kata. 

Barra? Saat nama itu disebut, napasnya tercekat di tenggorokan, tubuhnya menegang, kedua matanya membelalak. Putra sulungnya, ia merasa kehadiran Barra terasa nyata di sini. Dan itu membuatnya gugup. Sekaligus, rindu? 

Apa yang tak ia ketahui, sesuatu terjadi di antara anak-anaknya. Melakukan sesuatu di belakangnya, tidak mempedulikannya sebagai mommy kandung mereka. Kehadirannya seperti disepelekan. 

Vira mengulum bibirnya, menetralkan napasnya sejenak. “Kenapa abangmu membelikan untukmu?” tanya Vira berusaha menampilkan senyumannya. Dalam hati, perasaan tak terimanya saat tidak diikutsertakan membuatnya sakit hati. 

Padahal Vira terlalu sibuk dengan semua acaranya hingga tak terlalu mempedulikan apa yang terjadi kepada anak-anaknya. 

“Eee katanya, sih, gantiin handphone Ersya yang dibanting sama bang Barra. Terus dibeliin lagi, khusus buat ngehubungin mereka,” tuturnya sembari menatap Vira. 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 01 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang