38

15.4K 1K 74
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.








Menurut Ersya saja atau yang lain juga merasakannya, suasana di mansion terasa begitu tegang daripada hari sebelumnya. Di ruang makan sudah ada beberapa anggota. Kendrik, Barra, Liam, dan terakhir adalah dirinya yang baru bergabung.

Biasanya ia akan turun bersama Nathan. Tetapi Nathan tak kunjung keluar dari kamar. Alih-alih meneriaki nama Nathan untuk segera menyelesaikan urusannya, Ersya meninggalkan Nathan begitu saja. Meskipun Nathan selalu menunggunya. Mereka saudara, wajar jika saling iseng satu sama lain. Dan Ersya yang paling sering mengusili saudaranya.

Tadinya ia menuruni tangga dengan tawa lirih yang mengalun indah, membuat siapa saja yang mendengar itu merasa gemas seketika. Namun, karena suasana tegang yang dirasakan Ersya membuat tawa itu lenyap.

Barra, Kendrik, dan Liam masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Mengabaikan tatapan melas dari Ersya. Keluarganya selalu sibuk. Mereka ini sebenarnya mengerjakan apa sih? Sampai segitunya mengabaikan anak baik hati ini. Terlebih lagi, aura yang menguar dari tubuh mereka terasa dingin. Tampaknya suasana tegang akibat pembicaraan kemarin masih terbawa oleh mereka.


Srett.

Atensi Ersya teralih pada suara itu. Menatap ke depan di mana ada Devin yang baru datang. Raut muka abangnya datar, seperti yang lain. Tidak apa-apa, Ersya sudah biasa. Memilih tidak peduli dengan suasana sekarang ini, Ersya dengan riang menyapa keluarganya.

"Selamat pagi abang dan Daddy," sapa Ersya menolehkan kepalanya dengan senyuman manis terbit di kedua belah bibirnya. Tampak manis jika dilihat, tetapi yang lain melihat itu dengan ekspresi biasa saja.

Kendrik menanggapi sapaan itu dengan anggukkan kepala. Hanya itu, selebihnya cuek. Pun, Barra hanya menatapnya sekilas, setelah itu sibuk kembali dengan pekerjaannya. Dasar workaholic, bahkan masih pagi pun sudah sibuk. Ersya yang tidak memiliki kesibukan tiba-tiba merasa insecure. Ersya juga ingin punya kesibukan, tetapi kesibukan apa ya? Tidak ada hal yang menarik baginya kecuali mengusili Nathan. Ngomong-ngomong, kenapa Nathan belum turun juga, ya?

"Hm." Liam berdeham dengan tetap mempertahankan ekspresi cueknya.

"Pagi." Nah, ini baru benar. Devin menjawab sapaannya. Meskipun dengan intonasi sama seperti yang lain. Setidaknya ada yang membalasnya. Seharusnya Ersya terbiasa dengan sikap dingin ini, tetapi Ersya merasakan hal lain. Entah apa, keluarganya selalu kelihatan mencurigakan.

Mulut Ersya akan terbuka untuk melontarkan protesnya, tetapi tidak terlaksana karena Rachel bersama maid di belakangnya telah datang dan membawa makanan.

"Yey, makanan datang," ucap Ersya penuh girang menyambut makanan tersebut. Rachel meletakkan makanan tersebut sembari melirik sekilas ke arah Ersya. Atas ucapan Ersya tadi, kini yang lain mulai mencampakkan kegiatannya. Duduk diam di tempatnya dengan sorot mata datar senantiasa menelisik sekitar.

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang