Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pertemuan yang tidak terduga menjadi awal dari segalanya. Momen seorang mommy dan anak bungsunya yang saling bertemu menghasilkan dua perasaan yang berbeda.
Rasa lega memenuhi hati Ersya. Setiap pikiran yang menjadi beban dari dulu kini mulai terangkat. Ersya berpikir jika jalan kehidupannya mulai mencapai titik terang. Tidak ada lagi keresahan dalam hatinya. Ersya hanya tinggal menikmati kehidupan di dunia ini.
Lalu Vira dengan perasaan senang bercampur haru. Kembali dengan setitik harapan hinggap dalam dirinya. Ersya sempat memperlihatkan foto dirinya yang ditemukan di gudang.
Mendengar jika Ersya selalu membawa foto itu ke mana pun, hatinya seketika menghangat. Ia tidak tahu Kendrik menceritakan apa saja ke Ersya. Ia mencoba tidak peduli akan hal itu. Yang terpenting Ersya tidak membencinya seperti tiga anaknya yang lain.
Jauh di lubuk hatinya, ia berpikir jika Kendrik sengaja tidak menceritakan masa lalu yang kelam kepada Ersya. Apa yang diinginkan Kendrik sebenarnya? Atas apa yang terjadi, Vira tidak bisa untuk tidak berharap lebih padanya.
Vira selalu berusaha melupakan keluarga Leonard dan menemukan kebahagiaan bersama keluarga barunya. Setidaknya ia memiliki ingatan buruk, dengan hal itu ia semakin membenci keluarga Leonard. Namun semakin ke sini, ia merindukan putra bungsunya yang sedari kecil sudah ia tinggal.
Wajar ia merindukannya, putra bungsunya tak ikut andil dalam masa lalu suram itu, yang ada ia malah menelantarkannya. Awalnya ia hanya merindukan saja, namun setelah melihat rupa anak bungsunya, ia jadi menginginkan Ersya untuk tinggal bersamanya.
Ia juga berharap Kendrik menceritakan tentangnya pada Ersya sebagai mommy kandung. Vira hanya berani berharap, untuk bertemu langsung, Vira tidak berani. Saat itu di Mall ia berani menghampiri Barra, karena ia adalah anak kandungnya.
Sangat menyedihkan jika ia yang merupakan mommy kandung dari mereka harus takut pada anak sendiri. Meskipun memang kenyatannya seperti itu, tapi Vira mencoba menyangkalnya. Sesuai prediksi, Barra tak mengharu biru kehadirannya.
At least, ia memiliki Ersya yang masih mau menerima kehadirannya. Pertemuan singkat yang membawa harapan baru bagi keduanya.
.......
Seulas senyum manis menghiasi bibir Ersya. Saat ini ia sedang dalam perjalanan pulang menuju mansion. Perasaan senang memenuhi hatinya. Kalian ingin tahu? Tadi mereka sempat bertukar nomor handphone.
Jika saat itu ia tidak nekad masuk ke gudang, ia mungkin masih ragu dengan pernyataan Vira tadi. Berkat aksi nekadnya, akhirnya membuahkan hasil. Semakin yakin jika takdir memihak pada ia dan mommy kandungnya. Dengan itu, rasa penasarannya terbayar.
Tak henti-hentinya Ersya memandang layar handphone. Tak sabar rasanya ingin menelpon Vira berulang kali, bertukar kabar satu sama lain.
Tawa kecil mengalun dari bibir mungil Ersya. Matanya menyipit karena bibirnya melengkung sempurna menciptakan senyum manis serta kedua pipinya mengembang. Ersya teringat percakapan mereka tadi di koridor.