Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa menit dalam perjalanan, Nathan akhirnya sampai di mana tempat teman-temannya mengajaknya. Café ini terletak di sudut kota. Saat tiba, Nathan dapat melihat Karel dan Zio yang sudah duduk santai di pojok café.
“Akhirnya lo datang juga, gue kira lo nggak bisa datang,” sambut Karel kepada Nathan yang sudah duduk di depannya.
Nathan hanya menaikkan sebelah alisnya menanggapi sambutan Karel. Tangan kanannya mengambil minuman yang sudah dipesankan terlebih dulu oleh temannya. Setelah menyesapnya perlahan, Nathan meletakkan kembali minuman tersebut. Sorot matanya memandang datar dua temannya. Perbedaan yang signifikan antara seragamnya dengan seragam Karel dan Zio. Jelas, karena ia sudah pindah sekolah.
“Gila lo tiba-tiba pindah gitu aja, nggak kasihan apa Karel sekangen itu sama lo,” ucap Zio terselip candaan di dalamnya. Atas ucapan Zio tadi, sang pemilik nama segera mengelak.
“Bangsat, jijik gue. Diem lo,” sentak Karel pada Zio yang kini cengengesan tak jelas.
“Kalian tidak berubah, selalu berisik,” ucap Nathan.
“Lo juga, tetep jadi anak pendiem. Gue kira, tinggal sama abang lo yang super aktif itu bikin lo jadi ikutan aktif. Ternyata sama aja,” balas Zio mencibir sikap Nathan yang menurutnya mengesalkan. Kini Karel dan Zio tahu bahwa ternyata Ersya lah abangnya, bukan Nathan. Dan sejak mereka tahu, sampai sekarang mereka suka menggoda Nathan dengan embel-embel tersebut.
“Ck, bukan urusan lo.” Nathan melirik tajam Zio yang tampaknya berniat mencari gara-gara dengannya.
“Harus banget ya pindah ke sana? Dia kan abang lo, masa nggak bisa jaga diri,” ucap Karel membahas alasan kepindahan Nathan itu.
“Lo yakin dia bisa jaga diri? Gue inget pas Nathan mukul Lino, si Ersya malah nyemangatin Nathan buat ngehajar itu anak. Gue kira bakal ngelerai atau ikut berantem, malah nyelametin tasnya Nathan,” timpal Zio memutar kilas balik pertemuan mereka dengan Ersya. Kesan Zio pada Ersya adalah Ersya anak polos yang tak bisa menjaga dirinya sendiri. Tampangnya yang imut juga mendukung sikapnya tersebut.
“Bener juga,” ujar Karel menyetujui perkataan Zio. Biasanya kan abang yang jaga adiknya. Pada umumnya.
“Perhatian banget lo sama Ersya, ya. Sampai mau diajak pindah sekolah,” ujar Karel tatkala tatapannya bersitatap dengan Nathan. Jujur ia tidak rela Nathan pindah begitu saja, secara mereka seperti sepaket. Ditinggal begitu saja, rasanya hampa.
“Iya, tuh. Lebih milih abangnya dibanding kita, ya. Nggak papa sih, Nathan berbakti sama abangnya.” Tak henti-hentinya Zio menggoda Nathan dengan menyebut embel-embel tersebut.
“Zi, lo pengen gue pukul?” ancam Nathan memperlihatkan kepalan tangannya kepada Zio. Padahal ia lega tak ada Ersya, jadi ia tak melulu mendengar perkataan itu. Ternyata terbitlah Zio sebagai pengganti Ersya. Memang benar ia tidak bisa memukul Ersya, tetapi jika Zio, tiga pukulan sepertinya kurang.