47

5.8K 431 19
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Kehidupan akan terus berjalan tanpa mempedulikan apakah kita sanggup untuk menjalaninya atau tidak. Dunia tetap akan berputar. Mengharapkan bahwa kehidupan akan selalu baik-baik saja merupakan impian setiap manusia.

Di balik lelahnya kehidupan, terselip harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Di tengah keramaian dunia yang tiada hentinya, terdapat seorang remaja yang kini tampak lesu sembari memandang gedung-gedung pencakar langit dari balik jendela mobil.

Kini ia sedang berada dalam perjalanan menuju mansion keluarga Mahatma. Kediaman mommy kandungnya yang ia nanti-nantikan. Tinggal di sana untuk beberapa hari dan pergi dari mansion Leonard setelah mengalami kekacauan yang cukup parah.

Ya … setidaknya ia berhasil keluar dari suasana mengerikan itu. Mungkin pergi sebentar akan meredakan emosi mereka. Setidaknya Ersya cari aman dulu. Kabur dari masalah. Lari dari kenyataan.

Merenungi sesuatu yang telah ia putuskan. Ia merasa … kosong. Semua yang terjadi terlalu mendadak baginya. Ia memang sudah memperkirakan kejadian ini akan terjadi, respon keluarga Leonard yang gampang tertebak mengingat tempramen mereka yang buruk. Nyatanya, sesiap apapun Ersya, siapa yang mengira jika akan secepat ini. Tetap saja merasa terkejut atas kejadian itu. Merasa takut, sedih, dan bingung.

Entah kenapa Ersya meragukan kembali keputusannya. Harusnya ia senang, kan? Bukankah ini yang ia inginkan sedari dulu. Semakin ke sini, Ersya semakin dibuat tunduk oleh perintah tak kasat mata yang dibuat oleh keluarganya. Kekangan yang tiada henti, sampai membuat dirinya tertekan. Nathan … adiknya itu malah berada di kubu abang dan daddynya. Kurang ajar memang.

Mommy Rachel … memikirkannya membuat Ersya tambah sedih. Setelah melalui banyak waktu bersama Rachel, kini ia menyadari maksud kehadiran mommy Rachel di keluarganya.

Sebagai air yang memadamkan api-api di sekitarnya. Tanpa kehadiran Rachel, semua  tidak akan berakhir seperti ini. Mungkin bisa saja ia masih berada di lingkungan yang penuh aura pekat dari keluarganya. Aura yang tidak ada setitik perdamaian.

Tak dipungkiri, tanpa Rachel, ia pasti tak akan berakhir bersama Vira. Bagaimana Rachel yang meyakinkan daddy dan abangnya. Juga, Nathan yang saat itu akan mengamuk. Hebatnya Rachel dapat mengatasi situasi rumit itu. Pokoknya setelah kembali dari mansion Mahatma, ia akan langsung lari ke pelukan mommy Rachel.

Ish ish ish. Belum apa-apa ia sudah merindukan mommynya itu. Padahal ia sekarang sedang bersama Vira. Sosok yang selama ini ia cari dan impikan kasih sayangnya.

Mommy Rachel adalah penyelamat hidupnya. Dulu sikapnya seakan-akan menolak kehadiran Rachel dan beranggapan bahwa kehadiran mereka akan membuatnya tersisih. Namun  sekarang tidak. Kehadiran Rachel sebagai penyelamat hidupnya di tengah-tengah keluarga yang keras kepala, kejam, dan dingin. Jika marah seperti monster. Apakah jika ia marah nanti, ia akan menjadi monster seperti mereka? Hm, patut dicoba. Semua memang butuh waktu.

Second Life : Ersya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang