Tentang Ersya dan kehidupan keduanya. Terdengar mustahil tapi ini lah yang dialami oleh Ersya. Hidup kembali di masa lalu dalam raga yang sama. Mengulang masa lalu dan berniat mengubah masa depan. Ersya seperti diberi kesempatan untuk memperbaiki hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di sebuah ruangan bernuansa biru menenangkan, Ersya merebahkan badannya di tempat tidur. Seragam masih melekat di tubuhnya, tak ada niatan untuk mengganti pakaian terlebih dulu. Ekspresi letihnya tergambar jelas di raut mukanya. Tidak ada yang ingin ia lakukan selain tiduran di kasur, mengistirahatkan tubuhnya dari lelahnya aktivitas hari ini.
Ia baru saja pulang sekolah. Bukan ikut ke mansion Leonard seperti ajakan Nathan, melainkan kembali ke mansion Mahatma. Ayolah, baru saja ia tinggal di sini, masa ia harus kembali ke mansion Leonard begitu cepatnya. Ia masih ingin bermain-main di sini tanpa dikelilingi keposesifan keluarga itu. Ya … meskipun jiwanya berada di sini, pikirannya masih berada di keluarga Leonard.
Ersya menghembuskan napas beratnya. Membawa kedua tangannya di bawah kepala, menjadikannya sebagai bantalan untuknya. Sorot mata sendunya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Mulutnya terbuka kecil melantunkan gumaman lirih. Kepalanya ikut bergerak ke kanan ke kiri dengan pelan seiring gumaman itu dilantunkan.
Ia kira jika sudah tinggal di sini, ia akan sedikit melupakan keluarga Leonard dan fokus dengan mommy kandungnya. Namun nyatanya, semakin hari Ersya semakin dibuat memikirkan keluarga Leonard. Sikap posesif, dingin, dan tatapan penuh intimidasi seolah-olah masih mengelilingi dirinya. Apalagi dengan sikap Nathan tadi, handphone baru pemberian Barra sebagai permintaan maaf. Oke, mungkin ia tak akan terkejut jika abangnya itu membelikan sesuatu untuknya. Itu sudah biasa bagi Ersya. Namun, meminta maaf? Ini semua merupakan hal baru baginya.
Sikap Nathan juga tak biasa. Selain dengan sukarela meminta maaf, Nathan tak memaksa dirinya untuk ikut dengannya. Hanya menawar, tidak lebih. Biasanya akan memaksanya seenak hati. Sebenarnya ia sudah berencana untuk menghadapi paksaan itu. Nyatanya semua yang terjadi berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan. Entah apa yang membuat keluarga Leonard bersikap seperti itu, mungkin telah diceramahi oleh mommy Rachel, hehe. Mommynya itu memang yang terbaik.
Jika mereka menjadi baik hati seperti itu, Ersya kan tidak akan takut lagi. Karena rasa penasarannya, ia ingin kembali ke mansion Leonard. Ia ingin bertemu daddy, mommy, dan abang-abangnya. Tapi, ia tidak enak hati kepada Vira. Bisa dibilang mereka baru tinggal bersama. Apalagi mommy Vira yang menyelamatkannya saat situasi genting hari itu. Pun, Vira ingin dirinya menetap di sini untuk waktu yang lama. Selama apa? Entah, Ersya juga tidak tahu. Mungkin mommynya itu ingin melepas rindu padanya, memberikan banyak kasih sayang yang tak diberikan dulu.
Ersya yang polos dan baik hati ini tentu tak tega menentang keinginan Vira. Lagipula ia juga ingin merasakan kasih sayang dari Vira. Pasti abang-abangnya dulu sudah pernah, makanya mereka tak terlalu ingin bertemu Vira. Hmm, bisa jadi. Ia kan belum sama sekali.
Saat pulang tadi, melihat ia dan Nathan menuju mobil yang berbeda, rasanya sedikit sedih. Mungkin karena terlalu biasa berangkat dan pulang bersama. Jujur, rasanya jika tidak dipaksa-paksa seperti biasanya, ada yang kurang. Sikap pemaksa itu telah melekat pada keluarga Leonard. Tidak heran jika Ersya sendiri bertanya-tanya. Mulut yang tadinya bergumam lirih kini mengerucut lucu. Keningnya mengerut dalam, matanya menyipit. Ekspresi Ersya saat tengah berpikir keras.