Waktu yang cukup aneh. Kafe remang yang mengheningkan luar. Anak-anak kecil yang kehilangan jejak kakinya. Orang-orang yang menutup segala yang datang pada tubuh yang mengasingkan bayang dari dirinya sendiri.
Suara bising menyelubungiku pada nyeri yang menjalar ke seluruh punggung. Aku tak tahu. Warna kakiku menghitam ditepikan abu. Suasana samar atas mimpi yang datang di saat aku berhenti sejak pada ketidakmenentuan.
Bau kopi yang menguar di balik wajah-wajah yang tak tertangkap oleh sisa masa depan. Makhluk kecil yang berkhayal menjadi ruh yang berumah di kayu yang berpilin rasa sakit.
Kebahagiaan berdentang tipis pada kaca yang menghamburkan napas dan jeda terputus dari beragam kisah.
Sejenak hitam. Sejenak buram. sejenak merah. Rambut yang tetap sama. Kaki yang menghimpit setiap apa yang ingin disembunyikan.
Entahlah. Aku menyukai suasana ramai yang menusuk masa kini yang sebentar lagi habis. Layaknya kisah yang memudar tak lama aku membuka pintu.
Aku mengetuk sunyi dari balik sorot lampu yang menertawakan sudut kota yang tak lagi menghibur, setiap manusia yang tak lagi nyenyak dengan lamunannya sendiri.
