Laki-laki itu menangis. Sesenggukan. Rasa sakit itu lebih buruk dari semua yang pernah ia alami. Ia merenung, sangat lama. Kapan waktu yang tepat untuk pergi? Mengakhiri yang selama ini tertunda.
Ia terjebak dengan pikiran-pikirannya sendiri. Hal-hal yang harus diselesaikan sebelum mengakhiri semua yang harusnya berakhir dahulu kala. Bersenang-senang untuk yang terakhir selama yang ia bisa.
Laki-laki itu sudah cukup menderita. Ia tak lagi ingin mengulangi kehidupannya dan kisah yang mungkin akan serupa. Pada waktu tertentu, ia menengok lehernya sendiri. Itu masih di sana. Ia melihat pergelangan tangannya dengan seksama. Itu juga masih di sana.
Tak lama nanti, seluruh tubuhnya menghilang. Kisah anehnya tertutup. Yang tersisa hanya kekosongan yang lirih. Tak ada yang perlu ditangisi bagi seseorang yang sejak awal tak ingin ditangisi oleh siapa pun.
Untuknya, ketiadaan adalah kebahagiaan yang akhirnya ia menuju dan meluruh.
Dalam waktu yang tak lagi lahir. Keterasingan yang memangku beku dan seluruh hening yang pucat. Mata itu pun tertutup untuk selamanya. Tanpa lagi menoleh. Sisa usia yang tak lagi merambat.
