Kamar ini terlalu gelap. Seperti diriku yang bangun dari waktu yang bukan pada garisnya. Sisi timur yang terbalik oleh kaca yang mengurai cahaya tipis dari jalanan yang meragukan keberadaannya sendiri. Mencoba memberi tahu dunia yang aneh pada wajah yang kusut seusai tidur tak lagi semenyenangkan dulu.
Sewaktu tubuh mungil tak terlalu banyak menyentuh tanah.
Aku terbangun terlalu awal. Kota ini, hanyalah kotak-kotak mungil yang berisi orang-orang yang kehilangan kewarasannya sendiri. Mereka yang meledakkan kepalanya di ruang-ruang kerja yang begitu merusak segala yang mungkin. Kehidupan membosankan yang disumpal kekayaan dan sedikit canda aneh dari mulut yang mulai kehilangan kata-kata.
Aku berada di pusat segala rasa sakit. Ibu kota dari penderitaan manusia yang ringkih dan mulai meragukan kedewasaannya sendiri. Cinta yang menanam trauma yang terlalu dalam pada masa depan yang kian menakutkan. Khayalan lugu akan hari yang menyenangkan dan kebahagiaan tipis yang bisa hanyut kapan saja bahkan oleh hujan yang seperti gerimis.
Aku ingin sekali lagi memejam mata. Melupakan hari ini dan segala sisa yang menyertainya. Menuju kemalasan yang begitu lembut. Rasa asing yang lebih dekat daripada ketiadaan yang begitu aku inginkan dengan menggebu.
Pada pagi hari yang tak ingin aku jumpai. Seseorang mencoba menyelinap dari balik kehampaan hidupnya. Mencoba bertahan dari kengerian hidup yang tak putus-putus. Keindahan yang tercipta dari rasa sakit dan segumpal sepi.
