Angin yang membusuk di
lingkar punggung
Membawa aliran dedaun yang membentang di antara bebatu
Rasa ngilu akan masa depan yang terasa hambar
Meneteskan gerimis pada senja yang menuju kemuning
Awan gelap di atas sana,
terasa mencekik kulitku
Hawa dingin mulai mencair di mulut yang gelisah
Dunia yang habis walau mata masih terbuka
Ada nganga serupa hujan di curamnya tebing berpasir
Deras menghujam masa kini dan nanti yang menyeret diri yang lalu
Aku, menanti waktu yang
benar padam
Membawa ketakinginan pada
yang diam penuh gejolak
Rasa sakit dari laki-laki yang ringkih
Yang tak lagi tahu harus menengok
ke mana
