142

8 1 0
                                        

Tanah itu berbau anyir. Mayat yang tergeletak di sana. Menceritakan waktu yang terjebak pada ketidakhadiran. Bayi-bayi yang terurai. Kesunyian yang menjerit kan tangis. Mimpi aneh tentang orang-orang yang bercanda dengan masa depannya sendiri. Bebatuan dan semilir angin yang tak sampai pada mereka yang berpura-pura merawat perasaannya.

Ledakan itu begitu tipis. Terdengar aneh di telinga mereka yang jauh. Begitu samar hingga nyaris tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Ah, satu hari di saat seseorang bangun dari tidur nyenyaknya yang lucu. Satu anak mati dalam hening yang menganga. Lalu berpuluh saat sebuah keluarga tengah sibuk dengan ambisinya masing-masing.

Dunia begitu tak menarik di sana. Ledakan seperti mainan yang merampok nyawa setiap orang. Kematian tak lebih dari lelucon bagi mereka yang sibuk dengan dirinya sendiri.

Di sana, Tuhan lupa untuk terbangun. Umat manusia terlelap lelah dari usianya yang menua. Kita? Di mana kita menaruh kaki kita yang ringkih?

Tak ada yang lebih penting dari diri sendiri dan igauan-igauan yang entah. Jauh di sana, anak-anak kecil hanyalah tubuh yang terbengkalai dan masa depan biarlah tetap seperti itu.

AKU, DAN BENTANG HAMPACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang