Dedaunan yang mengambang hitam saat kepala menoleh atas. Beton kering dan setapak kaki yang sama sekali tak berpijak. Kabel-kabel yang berhamburan selagi mata terburam kan oleh cahaya yang terlalu silau dari tiang penyendiri yang tak pernah saling bisa bertemu kecuali oleh ikatan tipis di sela malam yang mulai menidurkan dirinya sendiri.
Aku makhluk kecil nan mungil yang tak menikmati kedewasaan hidupnya. Mengasingkan diri ke dalam relung setiap rerumput yang terkadang tak nampak dari segala yang menjelma kota.
Di ujung yang agak jauh. Ada sekelebat titik-titik yang menarik. Kehampaan yang membentang sepanjang jalan yang dikerumuni oleh keremangan lampu-lampu yang mencoba melahap kegelapan untuk waktu yang entah.
Kedua kakiku. Jemari yang melingkari kosong. Mata yang mencoba bertahan dari rasa kantuk di saat nyamuk-nyamuk tak kasat mata mencoba hadir untuk menantang umat manusia.
Kehidupan, adakalanya tak lebih dari keterpaksaan yang coba untuk dinikmati. Perasaan geli akan kemungkinan-kemungkinan. Rasa hambar yang coba ditelan selama mungkin. Kota yang terkadang jauh lebih indah karena dibangun dari rasa sakit dan kehilangan-kehilangan.
Pepohonan yang menyamar dalam keterkejutannya sendiri. Membuat aku tersadar bahwa hari ini adalah malam yang akan terus mengulangi awal. Selama mungkin. Sejauh mungkin. Segala akhir pun tak lagi nampak.
