Episode 131

14 3 0
                                        

Setelah Fira turun dari pangkuannya, Maulana menyandarkan tubuhnya ke sofa, membiarkan kenyamanan lembut bantal menyambut tubuhnya yang lemah. Matanya terpejam rapat, seolah-olah mencoba untuk menghalangi rasa sakit yang terus menghantui. Tangan kanannya masih terpegang erat di perutnya, seakan-akan mencoba untuk menahan gelombang rasa sakit yang terus berdenyut.

Rasa sakit itu seperti api yang membakar, menyebar ke seluruh tubuhnya, membuat napasnya menjadi berat dan tidak teratur. Maulana merasakan ketidaknyamanan yang luar biasa, seperti ada sesuatu yang menghimpit perutnya, membuatnya merasa ingin berteriak kesakitan. Namun, dia menahan diri, hanya menghela napas dalam-dalam, berharap bahwa rasa sakit ini akan segera berlalu.

Sofa yang empuk dan nyaman tidak cukup untuk mengurangi rasa sakit yang menghantui tubuhnya. Maulana merasa seperti terperangkap dalam badai rasa sakit yang tidak ada habisnya, dan satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menunggu bantuan dari Fransis, berharap bahwa obat yang akan diberikan bisa mengurangi rasa sakit yang tidak tertahankan ini. Dalam keheningan itu, hanya suara napasnya yang berat dan desahan lembut yang terdengar, menunjukkan betapa beratnya perjuangan yang dia alami saat itu.

Fira berdiri di depan Maulana dengan wajah penuh kekhawatiran, matanya terpaku pada suaminya yang terlihat menderita. Panik dan ketakutan tergambar jelas di wajahnya, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu Maulana. Fira merasa takut kalau terjadi sesuatu pada suaminya, dan dia berharap bahwa Fransis bisa segera memberikan bantuan yang dibutuhkan. Dengan tangan yang gemetar, Fira berusaha untuk tetap tenang, tapi kekhawatiran dan ketakutan jelas terlihat dalam setiap gerakannya.

Fira dengan lembut duduk di samping Maulana, wajahnya masih penuh kekhawatiran. Dia menatap suaminya dengan mata yang penuh kasih, lalu dengan perlahan-lahan mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas tangan Maulana yang masih memegangi perutnya. Sentuhan lembut itu seperti memberikan sinyal bahwa Fira ada di sampingnya, siap untuk mendukung dan menemaninya melalui rasa sakit yang menghantui.

Maulana merasakan sentuhan tangan Fira dan sedikit mengendurkan cengkeramannya pada perutnya, membiarkan tangan Fira menutupi tangannya. Meskipun masih merasakan sakit, Maulana merasa sedikit lebih tenang dengan kehadiran Fira di sampingnya. Dia membuka matanya yang masih berat dan menatap Fira, memberikan senyum lemah sebagai tanda terima kasih atas kehadiran dan kepeduliannya.

Dalam keheningan itu, sentuhan tangan Fira dan Maulana menjadi satu-satunya komunikasi yang dibutuhkan, menyampaikan perasaan yang lebih dalam daripada kata-kata. Fira membalas senyum Maulana dengan senyum lembut, menunjukkan bahwa dia ada di sana untuknya, tidak peduli apa yang terjadi.

"Mas kenapa? Mas sakit perut lagi? Kita kerumah sakit saja."

Maulana menggelengkan kepala perlahan-lahan, menunjukkan bahwa dia tidak ingin pergi ke rumah sakit saat ini.

Wajahnya masih terlihat pucat dan berkeringat, menunjukkan bahwa rasa sakit masih menghantui tubuhnya. Bicara memang masih terasa sangat sulit baginya, sehingga dia hanya mengandalkan gerakan kepala untuk menyampaikan keinginannya.

Fira memperhatikan reaksi Maulana dan mencoba untuk memahami apa yang dia maksudkan.

"Sebenarnya Mas sakit apa?" Fira tidak mengerti, kenapa setiap kali di rumah sakit, Dokter hanya mengatakan bahwa pria itu salah makan dan kelelahan, atau Dokter hanya mengatakan bahwa Suaminya baik-baik saja.

"Mas tidak apa-apa, Sayang. Tadi Mas hanya salah makan, jadi maag Mas kambuh," katanya dengan suara yang lemah.

Fira memandang Maulana dengan skeptis, tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban suaminya. Dia tahu bahwa Maulana sering mengalami sakit perut, tapi kali ini rasanya berbeda. Fira ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya, tapi Maulana tampaknya tidak ingin memberitahu.

***

Sui melangkah masuk ke dalam UKS dengan langkah yang tenang, matanya langsung tertuju pada Fransis yang sedang duduk dengan fokus membaca sebuah berkas.

Sui mendekati Fransis dengan rasa penasaran yang masih membara dalam hatinya, ingin tahu apa yang sedang Fransis lakukan.

Ketika dia semakin dekat, suara langkah kakinya yang lembut di lantai membuat Fransis menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu dalam sekejap sebelum Sui akhirnya duduk di sebelahnya. "Ada apa?" tanya Fransis singkat, tanpa mengangkat pandangannya dari berkas yang sedang dibacanya.

Sui tersenyum ringan."Aku hanya ingin tahu apa yang kamu lakukan di sini," katanya sambil memperhatikan berkas yang ada di tangan Fransis.

Namun, sebelum Fransis bisa menjawab, Sui melanjutkan. "Aku tadi bercanda dengan John, tapi dia bereaksi seperti itu. Apa yang terjadi padanya?" Pertanyaan itu membuat Fransis mengangkat pandangannya, ada sesuatu yang berbeda dalam matanya, sesuatu yang membuat Sui merasa penasaran.

"Kamu tidak tahu?" tanya Fransis, suaranya datar tapi ada nada yang tidak biasa di dalamnya.

Sui menggelengkan kepalanya."Tahu apa?" Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan rasa penasarannya semakin besar. Fransis menutup berkas yang sedang dibacanya, matanya tetap tertuju pada Sui.

"Kamu tidak tahu tentang kondisi Ivan?" Ia bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.

Sui merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan dia semakin penasaran. "Kondisi apa?" Ia bertanya, suaranya lebih rendah sekarang.

Fransis menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab, "Ivan sakit keras, Sui. Sirosis hati stadium akhir." Sui merasa seperti terpukul, dia tidak menyangka bahwa Maulana sakit parah.

"Apa?" Ia bertanya, suaranya hampir tidak terdengar.

Fransis mengangguk."Ya, dan kamu tadi...," Fransis berhenti sejenak, "Kamu tadi bercanda tentang memukulnya?"

Sui merasa seperti tersadar, dia tidak menyadari bahwa bercandanya bisa berdampak begitu besar pada Maulana. "Aku tidak tahu," katanya lembut, rasa bersalah mulai muncul di hatinya.

Fransis menatapnya dengan mata yang tajam. "Kamu tidak tahu bahwa bercanda seperti itu bisa membunuh orang?" Sui merasa seperti diserang, dia tidak menyangka bahwa tindakannya bisa berdampak begitu fatal.

"Aku tidak tahu." Dia mengulangi, kali ini dengan nada yang lebih rendah.

Fransis bangkit dari tempat duduknya. "Kamu harus tahu, Sui. Ivan bukan orang yang bisa kamu main-mainkan seperti itu."

Sui merasa seperti ditegur, dia tidak menyangka bahwa tindakannya bisa berdampak begitu besar pada orang lain.

Dia bangkit dari tempat duduknya. "Aku tidak bermaksud menyakiti Ivan," katanya lembut.

Fransis menatapnya dengan mata yang tajam. "Aku tidak peduli dengan niatmu, Sui. Yang penting adalah akibatnya."

Sui merasa seperti tersudut, dia tidak tahu bagaimana cara memperbaiki keadaan. "Aku minta maaf," katanya lembut.

Fransis tidak menjawab, dia hanya menatap Sui dengan mata yang tajam. Sui merasa seperti tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa berdiri di sana dengan rasa bersalah yang memenuhi hatinya.

***

Rangga dan Ian melangkah menuju ruang kesenian yang terletak di samping UKS, langkah mereka tenang namun penuh dengan rasa penasaran.

Ketika mereka mendekati ruang kesenian, suara keributan mulai terdengar lebih jelas, seperti gema yang memantul di koridor sekolah yang sunyi.

Mereka bertukar pandang, mata mereka berbicara tanpa kata-kata, "Apa yang terjadi?" Pertanyaan itu terpatri di wajah mereka, membuat mereka semakin mempercepat langkah.

Ketika mereka tiba di depan UKS, suara pertengkaran semakin keras, kata-kata yang terucap penuh dengan emosi dan kemarahan.

Rangga dan Ian saling menatap, mereka tahu bahwa situasi ini tidak biasa.

Dengan langkah yang hati-hati, mereka mendekati UKS, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam. Suara-suara yang terdengar semakin keras membuat mereka semakin penasaran, dan mereka tidak sabar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam UKS.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang