Episode 120(130)

30 3 0
                                        

Sesampainya di rumah, dua orang penjaga gerbang membuka pintu gerbang.

Maulana dan Fira melangkahkan kaki melewati pintu gerbang, di depan rumah, di teras terlihat Nadia berdiri sambil bersedekap dada, tatapan wanita itu penuh kebencian terhadap Fira.

Fira merapatkan diri pada Maulana, memeluk lengan pria itu semakin erat, dalam hati sangat ingin mengusir Nadia namun khawatir Catherine akan marah padanya.

Maulana dan Fira berhenti di samping Nadia, pria itu menoleh sejenak pada Nadia." Kembalilah ke Mension Mizuruky, jangan datang lagi ke sini."

Fira tersenyum bahagia, rupanya Maulana mengerti ketidak nyamanan dalam dirinya melihat Nadia.

Nadia terkejut, ia menoleh pada Maulana, mata wanita itu menegang, rahang mengeras, ada rasa tidak terima dalam hati saat Maulana mengusir dirinya.

"Van, demi wanita yang baru kamu kenal tidak sampai satu bulan kamu bisa mengusir Ibumu sendiri." Nadia bicara dengan nada marah.

Tatapan Maulana sangat sinis."Kamu bukan Ibuku, kamu di sini hanya untuk membuat Istri ku tidak nyaman. Selain itu, kamu selalu fitnah Istriku."

Dari dalam Catherine keluar, wanita itu sudah mengenakan mukenah warna biru terang dengan motif bunga diukir menggunakan benang.

Catherine berjalan mendekati Maulana dan Nadia, ia menghela nafas melihat kedua orang itu selalu bertengkar."Van, kamu mau ke masjid?"

Maulana mengalihkan perhatian pada Catherine."Iya, Bu."

Nadia memutar tubuh menatap Nadia."Mbak, Ivan mengusir ku demi wanita yang baru dia kenal." Ia bicara dengan nada kesal.

Catherine mengalihkan perhatian pada Nadia."Nadia, kalau begitu kamu pulang saja. Lagi pula Ivan sudah mengizinkan kalian tinggal di Mension Mizuruky, Ivan ingin di sini bersama Istrinya. Kamu juga jangan bilang kalau Fira itu wanita yang baru dikenal, karena bagaimanapun juga Fira itu Istrinya Ivan."

"Tapi, Mbak. Seharusnya Ivan lebih memilih ku dari pada Fira." Nadia frustasi, ia kesal karena sekarang Catherine pun tidak berpihak padanya.

"Nadia!" Catherine membentak Nadia."Fira itu Istrinya, kamu harus tahu itu. Ivan tidak akan pernah berada di pihak mu, karena Ivan tidak pernah cinta padamu. Lagi pula kamu itu Istrinya Mas Sinya, kenapa kamu ribut sekali mengurusi rumah tangga anak saya." Rasanya Catherine sangat ingin menyumpal mulut Nadia, wanita itu selalu cemburu bila Maulana memperlakukan Fira dengan lembut dan penuh kasih sayang.

"Apa si bagusnya Fira dibandingkan aku, Mbak? Aku juga bisa kok memuaskan Ivan di tempat tidur, aku yakin Fira tidak akan bisa." Nadia memandang Fira dengan pandangan menghina.

Maulana menghela nafas, ia bisa darah tinggi kalau Nadia terus di sekitarnya."Leaf!Tree!"

Tak lama kemudian dua orang yang dipanggil itu muncul di depan Maulana."Ketua!"

Maulana mengalihkan perhatian pada Leaf dan Tree."Bawa Nadia kembali ke Mension Mizuruky, kalau tidak mau, lemparkan saja di jalan raya!"

Nadia takut mendengar perintah Maulana pada anak buahnya."Van! Kamu tega memerintahkan mereka untuk melakukan itu pada Mama Nadia?"

Maulana menoleh pada Nadia lalu menjawab."Tega!"

Setelah itu Maulana membawa Fira masuk ke dalam rumahnya, ia yakin Nadia bersedia kembali ke Mension Mizuruky dengan suka rela, dari pada dilempar dari mobil ke jalan raya.

"Mas, kenapa Mas memerintahkan mereka seperti itu?" Fira bertanya sambil berjalan menuju lift bersama Maulana.

"Kalau tidak? Mama Nadia tidak akan bersedia pergi." Maulana menjawab dengan lembut.

Fira melirik Sang Suami, pria itu tidak seperti wajahnya yang terlihat lembut saat bersamanya, jika dengan wanita lain sangat dingin bahkan seperti tidak punya perasaan.

Bukan hanya pada Nadia, namun pada Indri pun rekan Gurunya juga sangat dingin, tidak ada basa-basi sama sekali.

Setelah keluar dari lift, mereka berdua berjalan menuju kamar, Maulana mengulurkan tangan membuka pintu kamar.

Fira segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian mengambil air wudhu, setelah itu mengambil mukenah warna pink.

Fira duduk di tepi ranjang menunggu sang Suami, Maulana mengambil jubah putih miliknya lalu mengambil syal merah dan sorban putih, ia berjalan menghampiri sang Istri.

"Ayo, Istriku." Dengan lembut Maulana meraih tangan sang Istri lalu membawanya pergi.

Di depan rumah, dengan terpaksa Nadia bersedia bersama Leaf dan Tree.

Catherine menggelengkan kepala melihat bagaimana cara Maulana mengusir Nadia, terkadang ia merasa kasihan dengan Nadia, namun dirinya juga tidak bisa membiarkan rumah tangga anaknya hancur hanya karena Nadia.

Tak lama kemudian Maulana dan Fira keluar, Catherine mengalihkan perhatian pada mereka."Van."

"Jika Ibu ingin membahas Mama Nadia, maaf aku tidak bisa. Aku sudah bosan dengan tingkah laku Mama Nadia, jika bukan karena dia Istri Ayah, aku sudah lama mengirimnya ke benua lain." Maulana menjawab dengan malas.

Catherine mengangkat tangan mengusap lembut lengan Putranya itu."Tidak, Nak. Ibu tahu kamu sudah berusaha sabar dengan Mama Nadia, Mama juga tahu kalau Istri mu lebih penting dari para Istri Ayahmu."

Maulana mengalihkan perhatian pada Catherine."Kecuali Ibu, bagi ku, Ibu dan Fira sama-sama pentingnya. Yang lain tidak."

Catherine tersenyum."Baiklah, ayo kita ke Masjid. Siapkan mobil mu."

"Dalam hadist riwayat Imam Muslim yang artinya: Ubay bin Ka'ab r.a berkata," Ada seorang sahabat Anshor, tiada seorang yang saya kenal lebih jauh rumah dari padanya, tetapi ia tidak pernah terlambat sembahyang jama'ah di Masjid. Maka ia diteguh, andaikan kau membeli keledai untuk kendaraan mu di waktu gelap atau panas. Jawabnya: Saya tidak ingin kalau rumahku di sebelah Masjid, saya ingin tercatat dalam amal kebaikan ku perjalananku ke Masjid dan kembali ku ke rumah keluarga ku. Bersabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam," Allah telah mengumpulkan bagimu semua itu. Dari pada kita naik mobil ke Masjid, lebih baik jalan kaki. Lagipula Masjid juga tidak terlalu jauh." Maulana tersenyum melihat pada Catherine dan Fira bergantian.

Kedua wanita itu hanya bisa menghela nafas pasrah menghadapi Maulana, selalu saja ada alasannya.

Fira menggandeng lengan kanan Maulana sedangkan Catherine lengan kiri."Sudah ayo jangan ceramah lagi." Catherine berkata dengan nada bosan, anaknya itu selalu saja berceramah.

Maulana tersenyum kecil, mereka bertiga pun melangkahkan kaki keluar dari rumah menuju ke Masjid.

Masjid Ar Rahman terletak di utara jalan raya, dengan arsitektur yang memadukan keindahan dan kesederhanaan. Kubah masjid ini berwarna emas yang berkilauan di bawah sinar matahari, memberikan kesan megah dan agung. Sementara itu, pagar masjid berwarna hijau yang segar dan harmonis dengan lingkungan sekitarnya.

Masjid Ar Rahman memiliki desain yang modern namun tetap mempertahankan unsur-unsur tradisional. Bagian dalam masjid dihiasi dengan kaligrafi yang indah dan dekorasi yang elegan, menciptakan suasana yang tenang dan damai bagi para jemaah.

Dengan lokasi yang strategis di utara jalan raya, Masjid Ar Rahman menjadi landmark yang mudah dikenali dan menjadi pusat kegiatan keagamaan di komunitas sekitar. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol kehadiran dan kebanggaan masyarakat setempat.

Suami Terbaik 2 Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang