Maulana muncul dengan gaya yang menyegarkan, mengenakan kemeja biru terang yang kontras dengan celana putih yang bersih. Warna biru terang pada kemeja tersebut seolah-olah memancarkan aura kesegaran dan semangat, sementara celana putih menambah kesan elegan dan rapi pada penampilannya. Dengan langkah percaya diri, ia memilih motor sport yang ramping dan dinamis, yang sepertinya sangat cocok dengan gayanya yang energik.
Saat ia membawa motor sport ke depan rumah, cahaya matahari memantul pada permukaan motor yang mengkilap, menciptakan efek visual yang menarik. Motor sport tersebut tampak siap untuk melaju kencang, seolah-olah menanti perintah untuk beraksi. Maulana, dengan senyum percaya diri, memegang setang motor dengan kuat, menunjukkan bahwa ia benar-benar menguasai kendaraan tersebut.
Di teras depan rumah, Fira berdiri dengan senyum hangat yang menghiasi wajahnya, menyambut Maulana dengan kegembiraan yang tulus. Saat melihat Maulana muncul dengan motor sport yang ramping, senyum Fira semakin melebar, seolah-olah cahaya matahari pagi yang memancar dari wajahnya.
Sementara itu, Antonio, murid Maulana yang setia, duduk di atas motor sport miliknya dengan ekspresi lega yang terlihat jelas di wajahnya. Senyum Antonio tampak lebih santai, seperti seseorang yang telah melepaskan beban berat dari pundaknya. Ia memandang Maulana dengan rasa kagum dan percaya, seolah-olah Maulana adalah sosok yang selalu dapat diandalkan.
Fira dan Antonio tampak sangat nyaman dengan kehadiran Maulana, sementara Maulana sendiri terlihat percaya diri dan bahagia dengan motor sport yang miliknya.
Fira berjalan mendekati Maulana, ia tersenyum lembut."Mas, kenapa pakai motor? Biasanya pakai mobil?" Gadis itu bertanya dengan heran.
"Tidak apa-apa, Mas hanya ingin pakai motor saja. Ayo, naik." Maulana memberikan isyarat pada Sang Istri agar naik motor.
Fira mengangguk, ia segera naik ke atas motor lalu memeluk pinggang sang Suami dari belakang.
"Pak Ivan, apakah Pak Ivan baik-baik saja?" Antonio bertanya dengan khawatir.
Maulana mengangguk."Ayo kamu jalan dulu."
Antonio mengangguk, ia pun melajukan motornya keluar rumah diikuti oleh Maulana, mereka meninggalkan halaman rumah.
SMA Dirgantara.
Di SMA Dirgantara, halaman sekolah dipenuhi dengan murid-murid dan guru yang berbaris rapi, membawa sajadah dan mukenah bagi murid perempuan, siap untuk melaksanakan sholat duha berjamaah. Suasana pagi yang tenang dan damai memenuhi udara, dengan sinar matahari yang lembut menerangi wajah-wajah yang penuh harapan dan ketenangan.
Meski begitu, masih ada murid yang tidak tertib, terutama kelas 3F, mereka masih sibuk bertengkar atau ada juga yang ngobrol.
Yusuf sang Kepala Sekolah memberikan arahan menggunankan mikrofon agar para murid segera mengambil tempat sholat, ia menghela nafas melihat sikap kelas 3F, kelas paling susah diatur.
Tak lama kemudian, Maulana bersama Fira muncul dari balik gerbang, disusul oleh Antonio.
Melihat Wali Kelasnya datang, murid Kelas 3F langsung diam dan mengambil tempat sholat masing-masing.
Semua Guru menggelengkan kepala melihat sikap kelas 3F, mereka itu antara takut kena hukuman atau menghormati Maulana sebagai seorang Guru.
Maulana menghentikan motornya sejenak di halaman, membiarkan Fira turun dengan hati-hati dari motor, gadis itu kebingungan memeriksa saku dan tas.
Maulana memperhatikan Sang Istri penuh tanda tanya."Ada apa, Sayang?"
"Apakah tadi aku lupa membawa uang saku?" Fira masih sibuk mencari uang sakunya.
Maulana tersenyum, ia mengambil dompetnya lalu memberikan pada sang Istri."Kamu ambil berapapun yang kamu mau."
Fira mengalihkan perhatian pada sang Suami."Tapi kan Mas tidak punya uang kecil?"
"Ada."Maulana membuka dompetnya lalu menunjukkan pada Fira."Kemarin sore, kamu yang meletakkan uang kertas dan koin ini di dalam dompet Mas, kamu melarang Mas mengeluarkannya."
"Oh, iya. Aku lupa." Fira tersenyum malu.
"Kamu butuh berapa?" Maulana meletakkan jemarinya di atas lembaran uang kertas berwarna merah hendak mengambil beberapa untuk sang Istri.
"Mm." Fira menepuk-nepuk pipinya sambil berfikir, dalam pikiran ia menghitung apa saja yang akan dibeli hari ini.
Bakso, 10.000
Mie ayam: 8000
Cemilan ringan: 5000
Es teh: 3000
"Dua puluh enam ribu." Fira tersenyum membayangkan reaksi sang Suami kalau tahu dirinya jajan sangat banyak.
Maulana mengangguk, ia mengambil uang kecil yang ditaruh sang Istri hasil dari kembalian saat membeli gorengan di lapangan, uang itu berjumlah 45:000.
Maulana menyerahkan uang itu pada Fira, alis Fira menukik tajam, ia mengambil 25 ribu."Aku tidak mau sebanyak itu."
Maulana memperhatikan dua lembar uang puluhan ribu di tangannya, ia mengangguk lalu memasukkan ke dalam saku kemeja, siapa tahu nanti gadis itu butuh lagi dan menyimpan dompet di saku celana.
"Kamu yakin tidak kurang?" Maulana bertanya untuk memastikan, ia tidak ingin Istrinya sampai kekurangan uang.
Fira mengangguk."Iya, Mas. Ini tidak kurang kok, aku malah sekarang lebih boros dari sebelum aku bersama Mas."
"Baiklah, Mas taruh motor Mas dulu di parkiran. Kamu siap-siap sholat duha." Maulana kembali melajukan motornya dengan perlahan hingga ke tempat parkiran.
Fira memutar tubuh lalu menaruh tasnya di atas tikar bersih di lantai kemudian mengambil mukenah warna biru, setelah itu kembali mengangkat tas itu dan membawanya ke dalam kelas.
Setelah menaruh tas di meja, Fira kembali keluar kelas dan duduk di atas tikar dekat Naira, ia mulai memakai mukenah miliknya.
"Padahal tadi aku lihat Pak Ivan mau memberimu uang ratusan ribu, kok kamu tidak mau?" Naira bertanya sambil memasang mukenah bagian rok.
"Aku tidak butuh uang sebanyak itu, aku pernah diberi Mas Ivan uang satu juta dan kartu kredit warna hitam. Aku tidak tahu itu kartu apa, Mas Ivan itu banyak kartu semacam itu." Fira berdiri untuk memakai rok mukenah, kemudian kembali duduk.
"Kartu hitam?" Naira bingung memikirkan jenis kartu apa.
"Kartu apa itu? Ayahku punya kartu kredit, tapi warnanya bukan warna hitam. Kartunya juga tidak banyak, hanya satu." Naira masih penasaran jenis kartu hitam yang dikatakan Fira.
"Aku mana tahu, aku pernah lihat jenis kartu itu di Google. Namanya American Express." Fira duduk bersila menunggu waktu sholat Dhuha.
"Ha?" Naira berteriak dengan terkejut, kemudian segera menutup mulut melihat tatapan tajam dari Maulana, ternyata pria itu sudah berdiri di depan pintu ruang Guru.
"Fir, itu kartu eksklusif. Tidak semua orang punya kartu itu, itu hanya untuk orang-orang kaya dengan pendapatan minimalnya ratusan juta atau miliaran rupiah." Naira bicara dengan suara berbisik.
"Dari mana kamu tahu?" Fira menoleh pada Naira dengan tatapan penasaran.
"Google tentunya, mana mungkin aku yang tidak punya penghasilan sendiri selain nodong Ayah dan Ibuku tahu tentang kartu seperti itu kalau tidak dari Google." Naira nyengir saat melihat ke arah Maulana, hampir saja dirinya kena omelan karena tadi bicara terlalu keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomansaDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
