56 ; Uluran Tangan

8.4K 916 176
                                        

ALIH-ALIH RUMAH dan apartemen, kantor dan rumah sakit merupakan lokasi yang kini menjadi tempat tinggal Nares.

Dua minggu sudah sejak insiden memilukan itu terjadi. Lebam di wajahnya mulai membaik. Tubuhnya juga semakin bebas digerakkan. Dilihat dari kondisi fisik, bisa dibilang dia sudah pulih.

Jalan keluar untuk mengurus masalah Jonathan sudah mulai terlihat, meskipun dia belum secara sah menyetujui kontrak. Cakra belum lanjut mengabarinya mengenai persetujuan ini. Katanya, si pimpinan organisasi—sosok yang disebut sebagai direktur—masih belum tiba di Indonesia. Mereka perlu menunggu sekitar tiga hari lagi, baru kemudian Nares akan dikabari.

Selama dua pekan ini, dia juga mendapatkan laporan rutin mengenai Tabita dari Cakra. Pria itu benar-benar mengerjakan perintah Nares untuk mengawasi sang anak tiri. Menurut laporan tersebut, Tabita memang selalu diantar jemput oleh orang suruhan Jonathan. Pria bajingan itu juga selalu memastikan bahwa Tabita ada di sisinya. Untuk sekarang, Nares belum memiliki celah untuk menemui dan membujuk Tabita secara langsung.

Kabar baiknya, dia tidak melihat indikasi pergerakan ekstrem si bajingan. Jonathan belum membuat masalah lain. Nares memiliki ruang untuk bernapas, meskipun sekarang rasanya dia malah seperti sedang berjalan di atas seutas benang. Tergelincir sedikit saja, maka dia akan jatuh ke dalam lubang yang dalam.

Belum ada tindakan nyata dari semua usahanya. Dia masih perlu menunggu buah dari seluruh usaha itu. Dan yang terburuk adalah ... Wilona yang tak kunjung membuka mata.

Dua minggu bukanlah waktu yang singkat bagi seseorang untuk tak sadarkan diri.

Pada tiga hari pertama, Nares masih merasa optimis dengan keselamatan sosok itu.

Namun, hari demi hari berlalu, sementara Wilona masih setia menutup mata. Dia seolah tak memiliki keinginan untuk kembali membukanya. Dia tak memiliki dorongan untuk melanjutkan hidup.

Kehidupan sosok itu berada di antara ada dan tiada.

Tiap menghabiskan waktu di kantornya, Nares selalu menyempatkan diri untuk memeriksa ponsel, berharap jika dia akan mendapatkan kabar baik dari rumah sakit.

Nyatanya, setelah dua minggu pun kabar itu tak kunjung datang.

Tiga hari terakhir ini, kondisi fisik Wilona justru makin melemah. Monitor jantung yang telah dilepas pada minggu pertama, sekarang sudah kembali dipasang.

Nares hampir tidak tidur ketika para petugas medis mencoba untuk menstabilkan kondisi sang wanita. Insomnia yang sempat membaik, kini kembali memburuk. Nares kesulitan untuk tidur. Rasa gelisahnya makin meningkat dari hari ke hari.

Jalan keluar yang sudah didapat, sama sekali tak terasa meringankan beban di pundaknya.

Ketakutan itu masih mencengkeram.

Dan dia akan kembali jatuh ke lubang keputusasaan kalau saja tidak rutin mengunjungi Lydia untuk berkonsultasi.

Terapis itu selalu mempunyai ucapan yang tepat untuk membuatnya waras. Nares masih mencoba bertahan di tengah kondisi tidak pasti ini. Dia berhasil mencurahkan konsentrasi ketika berada di kantor. Namun, saat kesibukan itu usai, dia mulai diserang kekhawatiran dengan kondisi seseorang yang masih terkapar tak berdaya di ranjang rumah sakit.

Baru dua minggu sejak kejadian nahas itu. Akan tetapi, warna di hidupnya mulai memudar. Cerah itu menghilang. Kini segalanya menjadi kelabu.

Dia sudah ingin kembali melihat sorot tajam itu membuka mata. Dia bahkan ingin mendengar komentar tajam yang sering terucap dari mulut istrinya.

Ucapan sarkastis atau komentar mengesalkan pun tidak apa-apa. Nares sudah mulai terbiasa. Ketiadaan itulah yang kini mulai mengganggunya.

Ramai jalan raya makin mengeruhkan isi pikiran.

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang