Song: Obsessed- ZANDROS ft Limi
Sandra membuka jendela kamarnya. Dan berdiri sambil memperhatikan ke sekeliling halaman rumah milik Sulla yang berada di Napoli. Bahkan kedaaan sekitar rumah peninggalan mendiang ibunya yang berada di pesisir pantai itu masih terlihat sama seperti dulu. Kumuh dan tidak terurus.
Fokus Sandra seketika menajam saat dia melihat dua mobil SUV hitam memecah keheningan pantai dan berhenti tepat di depan rumah. Sepasang matanya menyipit, mengunci sosok pria tegap berjaket kulit hitam yang baru saja menuruni mobil.
Sudah kuduga, Dante pasti akan mengejarku sampai kemari.
Sandra menyesap dalam-dalam rokoknya, mengembuskan asapnya ke udara sembari menatapi Dante beserta para pengawalnya yang mulai mengonfrontasi Sulla di bawah sana. Tak lama kemudian, ketukan beruntun terdengar di pintu kamarnya.
"Katakan padanya, aku akan menemuinya lima menit lagi," Potong Sandra dingin, bahkan sebelum anak buahnya sempat bersuara di balik pintu.
Sandra bergerak cepat. Ia menekan ujung rokoknya ke asbak, berganti pakaian dengan celana jins dan kaus hitam, lalu mengikat rambut panjangnya ke atas. Begitu ia melangkah turun ke ruang tengah, atmosfer pekat langsung menyambutnya. Di sana, Dante Petterson sudah duduk dengan rahang mengetat dan wajah yang teramat datar.
"Kau datang?" Tanya Sandra santai, melipat kedua tangan di dada sembari menuruni undakan tangga rumahnya.
Dante balas menatapnya tajam, mengisap rokoknya perlahan. "Rupanya kau bersembunyi di tempat kumuh ini?" Sudut bibir Dante terangkat, membentuk seringai miring yang meremehkan.
Tak jauh dari mereka, Evan berdiri bersandar di sisi jendela, tampak abai dan justru menikmati pemandangan laut lepas di luar sana.
"Mari kita bicara, Sandra. Aku tidak suka berbasa-basi. Kenapa kau bertindak sebodoh ini?!" Dante mendengus berang, membuang abu rokoknya kasar. "Aku sudah bersusah payah membuangnya jauh dari Amerika, tapi kau malah membawanya kembali dan membebaskan pria sialan itu begitu saja! Beraninya kau bermain-main denganku!"
Dante benar-benar sedang uring-uringan. Sisa-sisa kemarahan dari pertengahan konfliknya dengan Vallen di Amerika masih membekas jelas. Ditambah lagi, kebebasan Christopher Back kini telah menjelma menjadi ancaman terbesar bagi takhta kekuasaannya. Rahang Dante mengeras, menyiratkan kombinasi rasa frustrasi dan murka yang berbahaya.
"Dante," Sandra menelan ludah paksa, berusaha mempertahankan benteng pertahanannya. Ia melangkah mendekat hingga kini mereka hanya terpisahkan oleh sebuah meja yang dipenuhi gelas-gelas alkohol. Sandra menatap langsung ke sepasang netra kelabu milik Dante. Detik itu juga, ia menyadari luka robek di pelipis Dante serta beberapa bekas cakaran kuku yang masih memerah di sepanjang leher pria itu.
"Aku tahu tindakan ini berisiko. Aku hanya ingin menuntaskan dendamku pada mereka sendiri, tapi—"
"Tapi apa, Sandra?!" potong Dante, suaranya naik satu oktav. "Kenapa kau tidak langsung menghabisinya saat kau memiliki kesempatan?! Kenapa kau justru mengulur waktu dan tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin?!"
Sandra bungkam. Lidahnya mendadak kelu untuk menjabarkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Kau tidak butuh hukum formal untuk membalaskan kematian ayahmu. Kau punya hukummu sendiri, Sandra! Begitu pula denganku!" Cetus Dante kejam.
"Lantas kenapa tidak kau saja yang membunuhnya sejak awal sebelum aku menculiknya, hm?!" Tantang Sandra, menyuarakan kekesalannya. "Kenapa kau harus repot-repot datang kemari hanya karena kau takut kehilangan istrimu? Lalu sekarang kau melemparkan semua kesalahan padaku! Jika kau memang ingin dia mati, bunuh dia sekarang, Dante! Jangan cari perkara denganku hanya karena kau tidak becus mengeksekusinya sejak awal!"
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romance🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
