Matahari yang mulai merambat naik menyinari deretan nisan marmer hitam di Cementerio Jorrdines Montesacro. Pemakaman itu begitu sunyi, hanya menyisakan desau angin perbukitan Kolombia yang menggesek dedaunan pohon cemara di sekelilingnya.
Di sinilah langkah kaki Dante, Vallen, dan Nate akhirnya berhenti. Tepat di depan makam yang menjadi saksi bisu dari akhir sebuah era yang penuh dengan darah dan air mata.
Vallen melepaskan gandengan tangan Dante dengan perlahan. Langkahnya terasa berat namun pasti saat ia mendekati deretan nisan marmer hitam paling kiri, yang bertuliskan nama Gabrielle, Mia, dan adiknya Pellin Cooper.
Guratan emas nama-nama itu berkilau samar diterpa cahaya matahari, dikelilingi oleh tumpukan karangan bunga berwarna-warni.
Seketika, lutut Vallen terasa lemas. Ia berlutut di atas tepian lantai batu, meletakkan buket bunga lili putih yang dibawanya tepat di samping tumpukan bunga daisy kuning-biru yang sudah ada di sana.
"Padre..." Bisik Vallen lirih. Suaranya bergetar hebat, menahan gelombang emosi yang mendadak menghantam dadanya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh bebas, membasahi kain veil renda yang menutupi wajahnya. "Aku pulang... Aku datang bersama keluarga kecil-ku, Padre, Madre."
Dante tidak bersuara. Pria itu berdiri tegap beberapa langkah di belakang Vallen, menjaga jarak yang penuh rasa hormat. Sepasang mata peraknya menatap tajam ke arah nisan orang tua istrinya lalu. Kilas balik ingatan tentang kekejaman, perang kekuasaan, dan bagaimana takdir egoisnya dulu hampir menghancurkan hidup putri dari pria yang beristirahat di bawah tanah ini, kembali berputar di benaknya.
Namun, kali ini tidak ada ketakutan. Yang ada hanyalah ketetapan hati yang mutlak.
Dante perlahan ikut berlutut di samping Vallen. Tangan kekarnya bergerak mantap, merangkul bahu sang istri yang bergetar karena tangis, menariknya lembut ke dalam dekapannya.
"Nate, come here, darling," Panggil Dante dengan nada rendah namun penuh kehangatan.
Bocah kecil itu melangkah maju dengan ragu, memandangi deretan nisan hitam yang berjajar rapi. Ia memegang erat ujung kemeja putih ayahnya, lalu menatap nisan tersebut dengan mata bulatnya yang polos.
"Daddy... apa ini makam Abuelo?" Tanya Nate berbisik, takut merusak keheningan tempat itu.
"Yes, jagoan," Jawab Dante lembut. "Beri salam pada kakek, nenek dan aunty-mu."
Nate maju selangkah, lalu melambaikan tangan mungilnya dengan ceria. "Halo Abuelo, Abuela, Tía! Aku Nate."
Celotehan polos Nate seketika memotong atmosfer berat yang sempat menyelimuti tempat itu. Vallen terisak kecil, namun kali ini seulas senyum tulus terbit di bibirnya.
Ia mengulurkan tangan, menarik tubuh mungil Nate ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala putranya dengan penuh rasa syukur.
Dante menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah nisan marmer hitam di hadapannya. Di hadapan peristirahatan terakhir pria yang pernah ingin dia bunuh itu, Dante mengikrarkan janji sucinya yang paling dalam.
"Aku tahu tanganku tidak pernah bersih dari dosa masa lalu," Ucap Dante tegas, suaranya berat dan bergaung pelan ditiup angin perbukitan. "Tapi di hadapan tanah ini, aku bersumpah. Seluruh sisa hidup, kekuatan, dan napas yang kumiliki hanya akan digunakan untuk memuja dan melindungi putri Anda. Air matanya telah habis untuk masa lalu yang kelam. Mulai hari ini, dia adalah ratu di duniaku, dan tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhnya lagi."
Angin berembus kencang, memainkan ujung dress putih Vallen dan kelopak bunga-bunga di atas makam. Seolah-olah alam sedang memberikan restu atas janji mati yang baru saja diucapkan oleh sang pria.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romance🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
