Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah mencekam, bertransformasi sempurna menjadi ruang pertemuan privat yang hanya layak dihuni oleh para petinggi dunia gelap. Guratan kemewahan yang awalnya terasa hangat kini memancarkan aura dingin dan intimidatif. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu mahoni tua yang berkilau seolah siap menjadi saksi bisu dari negosiasi hidup dan mati. Dante berdiri di ujung meja, memancarkan dominasi mutlak yang tidak tergoyahkan. Di hadapannya, duduk barisan pria paruh baya berjas rapi-para paman mafianya-yang menyembunyikan tatapan menilai dan penuh kalkulasi di balik asap cerutu yang membubung lambat, memenuhi ruangan dengan aroma tembakau yang pekat dan menyesakkan.
Cahaya lampu temaram berayun statis di atas kepala, melemparkan bayangan panjang yang menari-nari di dinding, mempertegas ketegangan yang kian memuncak. Setiap tarikan napas di dalam ruangan itu terasa berat, sarat akan intrik, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang tak kasat mata. Tidak ada ruang untuk kesalahan, setiap gestur tubuh dan keheningan yang tercipta di antara Dante dan para tetua mafia itu adalah medan perang psikologis yang mematikan.
Klik.
Bunyi logam yang mekanis dan berulang itu memecah keheningan yang mencekam di dalam ruangan. Dante duduk bersandar dengan tenang, sementara jemarinya dengan lihai memainkan penutup pemantik rokok berhiaskan batu safir di tangannya. Buka, tutup. Buka, tutup. Gerakan ritmis itu seolah menjadi satu-satunya detak kehidupan di tengah atmosfer yang membeku.
Dari balik obsidian matanya yang dingin, Dante mengedarkan pandangan, menatap satu per satu pria paruh baya yang duduk mengitari meja mahoni di hadapannya. Tatapannya lambat, tajam, dan penuh intimidasi-seolah sedang menguliti isi kepala para paman mafianya tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Di bawah intimidasi visual itu, kepulan asap cerutu dari para tetua seakan tertahan di udara, menciptakan perang saraf yang sunyi namun mematikan.
"Dante, kau tidak bisa melenyapkan Billy begitu saja," Felix, salah satu pamannya bersuara, memecah keheningan dengan nada suara yang sengaja diberatkan. "Billy adalah salah satu anggota outfit terbaik kita."
Dante tidak langsung merespons. Gerakan jemarinya pada pemantik perak itu terhenti. Dengan ketenangan yang justru terasa mengintimidasi, ia hanya berdecih pelan-sebuah respons meremehkan yang membuat rahang Felix mengeras. Tanpa mengalihkan pandangan dari barisan pria di hadapannya, Dante mengambil sebatang rokok, menyelipkannya di antara bibir, lalu menyalakannya dengan satu dentingan pemantik yang tegas.
Asap abu-abu pertama diembuskannya lambat ke udara, mengaburkan sejenak wajah dinginnya di balik kabut tipis.
"Aku tidak perlu menjelaskan dua kali padamu, Paman," Ucap Dante, suaranya rendah namun menggema penuh otoritas di setiap sudut ruangan. "Menjelaskan bagaimana sifatku pada kalian?" Pertanyaan retoris itu dijatuhkan bak sebilah pisau di atas meja.
"Sebaiknya kau pikirkan baik-baik terlebih dulu, Nak," Sahut Aryan Escober, mencoba menengahi dengan nada yang sengaja dibuat tenang namun menuntut. "Aku tahu perbuatannya benar-benar sudah kelewatan, tapi kurasa semua pekerjaan yang dia kerjakan selama ini untuk outfit sangatlah baik."
"Tidak akan ada ampun bagi anggota yang telah berkhianat, Paman," Balas Dante dingin. Rahangnya mengerang keras, memperlihatkan emosi berbahaya yang mulai tertahan di balik topeng ketenangannya.
"Tapi dia tidak pernah curang pada outfit," sahut Aryan lagi, bersikeras mencari celah. "Kalian bisa memperbaiki hubungan kalian."
Dante tertawa penuh cemooh. Suara tawa yang pendek dan hambar itu terdengar begitu mengerikan di ruangan yang sunyi tersebut. "Memperbaiki?"
"Yeah. Kau tidak bisa membunuhnya hanya karena urusan pribadi kalian, Dante," Antoni kini ikut menimpali. Pria itu menyesap wisikinya dengan santai, seolah menganggap remeh bobot masalah yang sedang mereka bicarakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romance🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
