Chapter 52

1.6K 87 25
                                        


[Author's Note]

Halo semuanya! Sebelum kalian mulai membaca Bab ini, aku mau kasih sedikit spoiler nih. Bab kali ini sengaja aku penuhin dengan momen-momen manis antara Vallen dan Dante. Jadi, silakan dinikmati dulu asupan gulanya sebelum kita benar-benar masuk ke konflik terakhir yang bakal menguras emosi nanti! 😂

Oh ya, sebelum lanjut gulir ke bawah, aku mau absen kalian sebentar. Aku perhatiin yang baca cerita ini sebenarnya lumayan banyak, dan yang nambahin ke reading list setiap hari juga terus bertambah. Aku seneng banget, serius!

Tapi... kenapa kalian pelit banget kasih vote dan komentar, sih? Wkwkwk 😭 Taruh jempol kalian di tombol bintang bentar dong, gratis kok!

Yuk, jangan lupa vote dan tinggalin komentar di bab ini ya, biar aku makin semangat buat update kelanjutan kisah mereka. Sampai ketemu di bab berikutnya, jangan lupa bernapas sebelum konflik dimulai! ❤️

Bagian mana yang paling bikin kalian baper di bab ini?

Aku kasih visual Vallen Cooper ya buat menyegarkan mata kalian.

Aku kasih visual Vallen Cooper ya buat menyegarkan mata kalian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.








"Berhenti menggodaku," Bisik Vallen.

Detak jantung yang berpacu cepat di dalam dadanya kini bukan lagi karena letih fisik, melainkan akibat getaran tak kasat mata yang memenuhi ruang di antara mereka. Di bawah temaram lampu ring tinju latihan yang berada di dalam mansion, Dante bergerak semakin dekat, memangkas habis sisa jarak yang memisahkan dirinya dengan Vallen.

Kedua tangan Vallen yang dibungkus oleh sarung tinju putih terangkat perlahan, mendarat dengan kelembutan yang kontras tepat di atas dada bidang Dante yang bertelanjang dada. Vallen mencoba menghindar dengan menundukkan wajahnya, membuat rambut kepangnya jatuh ke depan menutupi pipi. Langkah itu ia ambil tepat saat Dante mendekatkan wajah, berusaha mencuri ciuman di bibirnya. Keduanya saling mengunci pandangan dalam diam, menciptakan ketegangan pekat seolah-olah seluruh pertahanan mereka akan luruh dalam hitungan detik.

"Tidak..." Vallen tertawa kecil.

Vallen mengangkat salah satu sarung tinjunya, lalu menoyorkannya pada rahang Dante dengan pelan. Ia kemudian melanjutkan dengan pukulan-pukulan manja ke perut kotak-kotak Dante sambil tersenyum geli, bahkan wanita itu sempat mengangkat kaki kanannya seolah ia ingin menghantam wajah pria itu.

Tak ingin kalah, Dante membalas dengan menoyor bahu Vallen menggunakan sarung tinju hitamnya.

"Aw... kau memukulku?" Vallen pura-pura kesakitan.

"Aku hanya menyentuhmu," Bisik Dante rendah.

Mereka sedikit menjauh untuk mengatur napas yang masih memburu tidak stabil-bukan hanya karena lelah berlatih, melainkan akibat debaran emosi yang terlalu kuat. Dante mundur beberapa langkah lalu bersandar pada tiang ring, namun pandangannya tetap terpaku mati pada sang istri, membiarkan seluruh pertahanan dirinya runtuh seutuhnya.

OBSESSEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang