Chapter 51

1.6K 72 22
                                        

Untuk beberapa chapter ke depan, aku sengaja menghadirkan momen-momen manis antara Vallen dan Dante terlebih dahulu.

Ini adalah jeda, sebelum aku benar-benar masuk ke konflik terakhir. Yaitu konflik antara Dante dan Billy yang memang belum tuntas.

Di chapter ini, aku juga akan menghadirkan Christopher Back untuk menutup urusannya dengan Vallen. Keterkejutan itu, lima tahun yang gagal menikah karena Dante... Setelah ini, perannya akan aku lanjutkan di novel sebelah.





Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, keadaan kini terbalik

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, keadaan kini terbalik.

Biasanya Vallen yang terbangun seorang diri, menatap kosong sisi ranjang tanpa ada Dante di sampingnya. Kini giliran Dante. Pria itu membuka pejaman matanya dan mendapati sisi tempat tidur di sebelahnya kini telah kosong dan dingin.

Panik menyergapnya seketika.

Tanpa berpikir, Dante pun menyingkirkan kain selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Ia meraih celana boxernya dengan gerakan tergesa, lalu melangkah ke setiap sudut kamar dengan mata yang masih setengah terpejam karena kantuk yang dipaksa sirna.

"Vallen? Baby? Where are you?"

Hanya keheningan yang menjawab.
Tidak ada siapapun.

Dante keluar dari dalam kamarnya dan menuruni undakan tangga dengan langkah cepat.

Pria itu mengumpat tertahan saat matanya menangkap mobil polisi mainan milik Nate yang berukuran cukup besar terparkir sembarangan di ruang tengah.

"Sialan," Umpatnya pelan. "Siapa yang berani membelikan mainan bodoh itu untuk putraku?!"

Ia melanjutkan langkahnya, dengan hati yang masih digelisahkan oleh rasa cemas yang menggedor dada. Hingga akhirnya, langkah kakinya tiba di ambang dapur luasnya.

Dan seluruh kepanikan itu lenyap seketika tanpa bekas.

Di sana, Vallen berdiri di dekat kompor. Wanita itu sibuk menyiapkan sarapan untuk putra kecil mereka, dengan Nate yang kini duduk manis di kursi makannya.

Begitu mendengar suara deheman Dante, Vallen pun langsung menoleh.

"Buen día," Ujar Dante. Suaranya serak khas bangun tidur, namun langkah kakinya seketika melunak saat ia mendekati mereka.

"Buen día, Daddy." Ujar Nate.

Pemandangan di hadapannya terasa terlalu tenang dan asing untuk seorang Dante Petterson. Tidak ada ancaman yang mengintai. Tidak ada genangan darah. Hanya ada aroma harum adonan Pancake yang sedang di panggang dan suara berisik sendok yang beradu ritmis dengan mangkuk keramik di sana.

Vallen menatapnya. Sorot matanya seolah menilai dengan keraguan yang tersirat jelas di wajahnya.

"Kenapa kau berteriak memanggilku seolah rumah ini sedang kebakaran?" Tanya Vallen, lalu kembali fokus membalikan Pancake di atas teplon. "Padahal aku hanya di dapur."

OBSESSEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang