Song: Chris Gray-My Everything
Note: Komentar yang baik2 ya, jika suka silahkan lanjut baca dengan bebas. Kalau tidak suka sama alur dan tokohnya kalian boleh skip tanpa harus berkata menyakitkan. Jika banyak typo atau salah pengetikan kata atau kalimat tandain saja. Kadang aku tidak sadar setelah nulis kata2 sampe 3000+ per Chapter.
Usai membersihkan diri di dalam kamar mandi, Vallen melangkah keluar seraya menggerutu kecil. Kekesalan merayapi hatinya lantaran Dante hanya menyediakan deretan lingerie dan pakaian serbaterbuka di dalam walk-in closet.
Dengan rambut yang masih setengah basah, berbalut tank top dan celana pendek berbahan kain satin berwarna merah muda, Vallen kini berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan suaminya. Langkahnya seketika terhenti di ruang tengah saat dia mendapati Dante tengah duduk menyendiri di atas sofa. Pria itu tampak begitu berwibawa dalam balutan kemeja berwarna hitam, celana panjang hitam, dan sepatu berwarna senada yang telah rapi. Dan sedang menikmati sebatang rokok, membiarkan keheningan kini melingkupinya.
"Dante, mengapa kau hanya menyediakan lingerie dan pakaian terbuka seperti ini di lemari? Aku membutuhkan pakaian yang lebih tertutup," Protes Vallen, tidak dapat menyembunyikan kejengkelannya.
Dante menoleh perlahan setelah mengembuskan asap rokoknya ke udara, membiarkan asap itu membubung tinggi.
"Aku membutuhkan pakaian tertutup untuk menyembunyikan bercak merah ini," Imbuh Vallen dengan volume suara yang merendah. "Apakah kau sama sekali tidak menyediakannya?"
"Baju-bajumu masih berada di rumah lamaku. Lagi pula, tidak ada wanita lain yang pernah berkunjung ke rumah ini. Jadi, untuk apa aku menyediakan pakaian wanita?" Jawab Dante tenang.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan semua lingerie di dalam closet itu? Aku yakin kau sengaja menyiapkannya untuk wanita-wanita penghibur yang sering kau undang ke sini."
Dante terkekeh kecil mendengar tuduhan tersebut. "Tidak ada wanita yang menapakkan kaki di sini selain kau dan adikku," Ujarnya sembari kembali menghisap rokoknya dalam-dalam.
Entah mengapa, seiring bertambahnya usia, karisma Dante justru kian memikat di mata Vallen. Jujur saja, kedekatan mereka saat ini kembali memaksa jantung Vallen berdegup kencang tak keruan. Bagaimana sosok Dante yang selalu berhasil mengacaukan ritme di dalam dadanya.
"Apa kau merasa tidak nyaman memakainya? Jika demikian, tidak usah dipakai. Lagi pula, aku jauh lebih suka melihat dirimi telanjang tanpa sehelai benang pun seperti semalam," Goda Dante tanpa ragu.
"Apa? Tapi—"
Sepasang manik mata mereka saling beradu dalam tatapan yang kian menghanyutkan. Vallen berdehem canggung, berusaha memalingkan wajah demi memutus kontak mata yang memabukkan itu. Ia segera melangkah melewati Dante menuju pantry, berniat membuatkan secangkir kopi untuk Dante, dan meredakan kegugupan yang menderanya.
Sial kenapa pikiran pria itu selalu dipenuhi hal-hal mesum? Vallen membatin jengkel.
Dante berdecih pelan seraya mematikan puntung rokoknya pada asbak.
"Apakah di sini tidak ada pelayan atau asisten rumah tangga yang bertugas membuatkanmu sarapan dan kopi?" Tanya Vallen dari balik meja pantry.
"For what? Sudah ada istriku di sini."
"Maksudku... untuk apa kau memiliki kekayaan melimpah jika pada akhirnya tetap mengandalkan istrimu sendiri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga?"
Bukannya menjawab, Dante justru bangkit berdiri. Ia melangkah mantap mendekati Vallen dengan satu tangan terbenam di saku celana. Dari arah belakang, lengan kekarnya kini langsung mendekap erat pinggang ramping Vallen. Ia pun menenggelamkan wajahnya pada rambut sang istri, menghirup lumat aroma harum yang menguar dari rambut wanita itu usai dia melakukan keramas.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romance🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
