🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
(Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante Petterson...
Hai... Aku gak tahu ya, part ini bagus atau tidak, soalnya aku nulisnya bener-bener lagi ga mood banget, selain habis sakit, perasaan aku juga lagi ga baik-baik saja. Maaf ya...
Mohon maaf jika ada salah dalam pengetikan kata,bahasa, dan typo yang tidak aku sadar dan lihat. Vote dan komen yang baik-baik ya.
Haturnuhun.
Song: Chris Gray-Dangerous Game
Part ini 21+
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk, membuat mata Vallen mengernyit. Ia diam. Membuka mata perlahan. Lalu bertanya dalam hati, apakah semua yang terjadi semalam benar-benar nyata? Atau hanya mimpi buruk lain yang ia ciptakan sendiri?
Vallen menatap dirinya. Hanya kain selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Lalu pandangannya beralih ke arah Dante. Pria itu masih tertidur dengan tenang di sebelahnya. Tangan kiri Dante jadi bantalan kepala Vallen, sedangkan tangan satunya lagi melingkar di perutnya, enggan lepas, mendekap tubuhnya erat seperti takut jika ia akan kembali kabur walau dalam tidurnya.
Tubuh Vallen terasa lengket dengan badan yang lemas, membuat dia tidak memiliki tenaga untuk bergerak sama sekali. Tangan dan sendinya terasa kaku untuk dia gerakan setelah semalam dia mendapatkan orgasme sebanyak lima kali. Semua momen itu terbayang kembali di dalam benaknya, bagaimana saat jari pria itu memutar pelan dan memainkan klitorisnya dengan kombinasi keluar masuk di dalam kewanitaannya seraya menahan kedua pahanya. Atau bagaimana, ketika pria itu yang memakan kewanitaannya dengan lidah lihainya dan membuat wajahnya terbenam sempurna di antara lipatan selangkangan Vallen, dan tidak mau berhenti menatapi wajah penuh sipuan wanita itu dari bawah sana.
Vallen ingat mereka baru saja berhenti melakukannya lima jam yang lalu setelah malam penuh kehangatan tersebut.
Vallen melirik sekali lagi ke wajah Dante yang terlelap di sampingnya. Seketika ia terdiam. Memperhatikan. Rahang tegasnya. Alis dan bulu mata yang terlalu indah untuk pria segila dia. Rambut hitam yang berantakan. Otot perutnya yang terbentuk rapi di bawah selimut.
Lalu pandangan Vallen turun pada tato yang menghiasi tubuh Dante. Tapi yang membuat napasnya tercekat adalah punggung pria itu. Di sana, tepat di belakang pundaknya, Dante telah menato sepasang mata dan alis miliknya. Mata Vallen. Alis Vallen, terpatri jelas di kulit Dante. Selamanya.
Tanpa sadar, tangan Vallen terangkat. Ujung jarinya nyaris menyentuh hidung mancung Dante. Namun gerakannya berhenti di udara. Mendadak jantungnya berdebar. Ia takut. Takut membangunkan tidur pria itu. Dante terlihat begitu lelap, damai, tidak seperti monster yang ia kenal. Dan Vallen tidak sanggup merusak kedamaian itu, walau hanya sedetik.
Vallen pun memilih untuk melirik jam yang ada di atas dinding, yang kini sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
Oh sial, Vallen terlambat bangun hari ini. Entah berapa lama mereka telah melakukannya tadi malam hingga membuat ia bangun sesiang ini.