♡Song: Midnight Blu- All You Need♡
Dante duduk bersandar di sofa kulit merah tua mewahnya, memancarkan aura dominasi mutlak dan ketenangan yang mematikan. Di dalam ruang kerja privat villa mewahnya di Kolombia, atmosfer terasa begitu pekat dan intimidatif.
Ruangan itu diselimuti oleh nuansa gelap yang temaram, di mana cahaya lampu hanya menyoroti sosoknya secara parsial, meninggalkan sebagian besar sudut ruangan dalam bayang-bayang misterius yang mencekam.
Gerak-geriknya tampak sangat santai namun penuh kalkulasi berbahaya, satu kakinya terangkat menyilang dengan angkuh, sementara tangan kanannya terangkat ke atas, memegang rokok yang asapnya mengepul tebal mengitari wajahnya yang tersembunyi di balik kegelapan. Pakaiannya mencerminkan kekuasaan yang kasual namun berkelas-sebuah kemeja putih dengan beberapa kancing atas sengaja dibuka, memperlihatkan otot dadanya yang tegap, dipadukan dengan celana kain hitam dan sepatu pantofel kulit yang berkilat di bawah temaram lampu.
Sorot mata Dante berkilat tajam, terkunci penuh pada tumpukan foto yang berserakan di atas meja di hadapannya. Lembar demi lembar gambar itu menampilkan sosok Vallen dalam berbagai sudut, sebagian besar diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak jauh.
Foto-foto itu baru saja ia dapatkan dari penguntit suruhan Billy yang tewas di tangannya, dan sebagian lagi merupakan hasil geledah paksa yang dilakukan oleh anak buahnya di kamar pribadi Billy.
"Shit..." Desis Dante, suaranya rendah namun sarat akan cengkeraman amarah yang tertahan. "Semua ini sungguh gila."
Jemari kekarnya membalik selembar foto lama yang memperlihatkan Vallen dalam balutan seragam sekolah menengah-nya, tersenyum tanpa beban, sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang mengintainya sejak dulu. Ternyata Billy benar-benar sudah sangat terobsesi pada istrinya, jauh sebelum dia bertemu dengan wanita itu. Dante mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, merutuki dirinya sendiri kenapa selama ini ia bisa melewatkan gelagat sakit dari orang kepercayaannya itu. Billy bukan hanya sekadar menculik dan menyembunyikan Vallen di Pegunungan Carpathian demi menjauhkannya dari Dante, melainkan telah membangun sebuah kuil obsesi gila yang mengancam kepemilikan mutlak-nya.
Fakta brutal itu menghantam ego Dante dengan telak, menyisakan rasa masam yang membakar tenggorokannya. Billy benar-benar telah mengagumi dan mengincar Vallen jauh sebelum dirinya sendiri menyadari keberadaan wanita itu. Saat ia sibuk membangun takhta outfit dengan darah dan peluru, tangan kanannya justru diam-diam menyusun rencana gila untuk memiliki wanita yang kini menjadi istrinya.
Dante melempar selembar foto Vallen remaja kembali ke atas meja dengan gerakan kasar. Mengetahui bahwa ada pria lain-terutama orang yang paling ia percaya-telah menatap dan memuja milik mutlaknya selama bertahun-tahun, menciptakan rasa muak yang tak tertahankan di dadanya. Skala obsesi Billy bukan lagi sekadar pelanggaran wilayah kekuasaan, melainkan sebuah ancaman laten yang nyaris saja berhasil merenggut istri-nya untuk selamanya.
Selama hidupnya, Dante tidak pernah sekalipun mengabaikan formalitas organisasi untuk mengunjungi rumah pribadi Billy. Namun, demi kepuasan dendam dan rasa penasarannya, untuk pertama kalinya ia melangkah masuk guna menggeledah setiap sudut tempat tinggal mantan orang kepercayaannya itu sebelum ia terbang ke Kolombia beberapa hari lalu.
Dante sedikit tercengang saat kakinya melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama Billy. Di sudut ruangan, sebuah lukisan dinding berukuran besar menampilkan wajah Vallen dengan detail yang sangat sempurna, seolah sang pelukis menumpahkan seluruh emosinya di sana.
Rasa geram Dante kian memuncak saat ia menyadari bahwa wajah di dalam lukisan itu identik dengan tato yang pernah ia lihat di tubuh Billy-sebuah bukti nyata bahwa Billy telah menyimpan obsesi tersembunyi terhadap Vallen selama bertahun-tahun di belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romansa🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
