Chapter 57

81 16 35
                                        

Beberapa menit berlalu, Vallen kini sudah duduk di meja makan yang luas bersama Nate, putra kecilnya. Mereka berdua tengah menunggu kehadiran Dante, Abigail, dan Evan untuk segera bergabung dan menikmati sarapan bersama yang sudah tertata rapi di atas meja.

Meskipun tangannya bergerak aktif menuangkan susu ke dalam gelas Nate, pikiran Vallen sama sekali belum bisa melupakan cuplikan demi cuplikan rekaman CCTV mengerikan yang baru saja ia tonton di ruangan pribadi Dante, tubuh Billy yang hancur disiksa oleh Bob terus berputar-putar di dalam kepalanya, seolah mencengkeram paksa seluruh kewarasannya pagi ini.

Vallen berusaha menyembunyikan ketegangan di wajahnya sebesar mungkin, mencoba tersenyum kecil setiap kali Nate mendongak menatapnya. Namun, batinnya tahu bahwa ia sedang berbohong pada diri sendiri, guratan pias di bibirnya dan telapak tangannya yang masih sedingin es tidak akan bisa menutupi ketakutan luar biasa yang sedang menggerogoti dadanya saat ini.

Vallen pun berusaha tenang saat ia menatap Dante, suaminya, beserta Abigail, Evan, dan Eldatan datang ke arah meja makan dengan langkah jenjang mereka yang berwibawa.

Aura mereka begitu mengintimidasi pagi ini. Keempat orang itu berjalan beriringan dengan pakaian serbahitam yang kontras, memancarkan dominasi dingin khas penguasa dunia bawah yang tak tersentuh.

Dante melangkah di barisan depan dengan tatapan abu-abunya yang lurus menatap Vallen, diikuti oleh Evan yang berekspresi datar, Abigail dengan keanggunannya yang tajam, serta Eldatan yang berjaga di barisan belakang dengan siaga.

Entahlah, apakah ini hanya perasaannya yang mendadak menjadi terlalu sensitif setelah ia melihat adegan kejam di laptop tadi, ataukah atmosfer ruangan ini yang memang mendadak bergeser menjadi sedingin es. Setiap ketukan langkah sepatu mereka di atas lantai terdengar seperti detak lonceng kematian di telinga Vallen. Ia meremas pinggiran rok gaunnya di bawah meja, berjuang mati-matian agar tangannya yang gemetar tidak menjatuhkan sendok di hadapan Nate yang masih duduk dengan polos di sampingnya.

Dante mengulas sebuah senyum tipis-sebuah kurva langka yang hanya ia tunjukkan pada keluarga kecilnya-lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di puncak kepala Vallen sebelum mengambil tempat duduk tepat di sebelah istrinya.

"Daddy!" Panggil Nate riang, sepasang kaki kecilnya berayun di bawah meja sambil mengunyah potongan sosis yang baru saja disuapi oleh Vallen.

Dante pun membalas sapaan riang putranya dengan usapan hangat di rambut anak itu, lalu mendaratkan ciuman gemas di pipi tembam sang jagoan. "Lanjutkan sarapanmu," Ucap Dante, suaranya melembut dalam intonasi kebapakan yang sangat kontras dengan aura mematikan yang ia bawa beberapa menit lalu. Nate mengangguk patuh dengan pipi yang menggembung penuh makanan.

Sementara itu, Abigail dan Evan mulai menggeser bangku mereka masing-masing, keduanya tersenyum hangat, menatap sang pewaris takhta Petterson dengan binar penuh kasih.

"Apa kabar, jagoan? Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Evan hangat, menyatukan jemarinya di atas meja sembari mencondongkan tubuh ke arah Nate.

"Yes, Uncle! Aku tertidur lelap sampai-sampai aku bermimpi sedang menggembalakan kambing bersama Nenek Zofia dan Kakek Vasly," Sahut Nate dengan imajinasi masa kecilnya yang jujur.

"Oh yaa... kau merindukan mereka?"

"Yes Uncle." Pandangan polosnya lalu mengarah pada Vallen yang duduk membeku di sebelahnya. "Mommy, kapan kita bertemu mereka lagi? Aku merindukan kakek dan nenek."

Zofia dan Vasly adalah sepasang lansia baik hati yang telah menolong dan merawat Vallen dengan tulus selama wanita itu terasing di Pegunungan Carpathian. Kehangatan mereka membuat Vallen dan Nate sudah menganggap keduanya seperti kakek dan nenek kandungnya sendiri. Namun, mendengar nama mereka disebut, Vallen hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong. Jemarinya yang sedingin es terus mengaduk-aduk Eggs Benedict di hadapannya tanpa minat, memperlihatkan raut wajah yang kian menegang parah di bawah lampu ruang makan karena bayangan Billy yang disiksa masih merajai benaknya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 8 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

OBSESSEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang