Jam pelajaran baru saja dimulai. Situasi di kelas Aksara terasa begitu tegang karena simulasi ujian akhir tengah dilaksanakan. Keringat dingin saling berseluncur mesra meskipun ac di ruang kelas menyala. Deru nafas frustasi pun menyela masuk tanpa permisi. Simulasi kali ini memang lumayan susah karena soal berbeda level dari sebelumnya.
"Pstt pstt, Ksa. Nomer lima belas?" bisik Leon dengan sesekali celingukan karena takut ternotice.
"B." balas Aksara cuek. Samuel yang dengar pun ikut mengganti jawaban karena sebelumnya ia isi A.
"Kalo tujuh ape? B apa E?" Leon bertanya lagi.
"C."
"Oh ngga ada yang masuk ya jawaban gua." balasnya cengengesan.
"LEON, KENAPA CENGENGESAN SENDIRI?"
"Mampus dah, itu mata apa rahmat Tuhan. Luas amat jangkauannya." Samuel yang mendengar celotehan Leon pun berusaha menahan tawa.
"Udah lu cari alesan aja. Gurunya otw ke sini met." gugup Samuel, tak ingin aksi menyontek mereka ketahuan.
"Eh, anu itu bu. Soalnya lucu." kata Leon memberi alasan.
"Ngga ada yang lucu Leon. Cepat kerjakan, kalau saya tau kamu cengengesan lagi. Kertas saya sita."
"Ah ibu, ini kan saya lagi menghibur diri."
"Menghibur?"
"Iya, ibu buat soal kek masalah kehidupan. Rumit."
"Leonn..!"
"Iya bu maaf." bisik Leon berhasil membuat seisi kelas menahan tawa. Pada kesempatan itu, Aksara selesai dengan pekerjaannya. Ia berdiri, kemudian menghampiri ibu Jasmin. Guru mata pelajaran matematika yang sekarang tengah mengajar di kelasnya.
"Ngga mau di cek ulang Aksa?"
"Ngga bu, itu sudah saya baca dan cek beberapa kali."
"Oke, ibu saja yang cek." Aksara mengangguk. Kemudian berdiri sebentar untuk menunggu hasil.
"Luar biasa nak, semua betul. Cuma di essay nomor satu pengerjaannya ibu rasa kurang detail. Pertahankan ya." tutur guru tersebut, Aksara mengangguk kembali, kemudian keluar dari ruangan dengan tenang.
"Semuanya, contoh Aksara. Jangan cuma main main saja, ujian kalian sudah dekat. Kalau sampai ada nilai yang turun, ibu buat remidi simulasi ujian." ujar bu Jasmin lantang.
"Setan tu Aksa, jahat bener kita di tinggal."
"Iya Sam, gua baru tanya lima soal. Ini masih ada dua lima yang harus gua cap cip cup. Semoga hoki."
"Sialan lu Le, masa segitu banyaknya mau lo cap cip cup." Varo menanggapi.
"Diem lu, kalo aja otak gua encer, ngga bakal gua begini."
"Agak laen." Varo terkekeh. Kemudian fokus lagi pada apa yang ia kerjakan. Bersamaan dengan itu, Hani selesai. Gadis itu memberikan lembar ujiannya, kemudian pergi keluar menyusul Aksara.
Gadis itu tersenyum anggun. Menata kembali rambutnya, kemudian menghampiri Aksara yang duduk termenung di bangku depan kelas.
"Hai Aksa. Gimana? Susah ngga soalnya?" lamunan Aksara buyar ketika mendengar sapaan itu, ada kilatan marah yang mati matian di sembunyikan ketika matanya berserobok dengan Hani.
'Kalo aja gua ngga nunggu lo hancur berkali kali lipat. Gua jamin sekarang mulut lo udah ngga bisa ngomong.'
"Biasa aja."
"Gua boleh duduk di samping lo?" pinta Hani dengan wajah yang sengaja di imut imut kan.
"Banyak bangku lain."
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
General FictionFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
