A²💜56

354 6 4
                                        

"Aksara. Gua mau." Aneth melambangkan suaranya karena jarak mereka semakin jauh. Ia berdiri tegak, menatap mantap punggung laki-laki yang baru saja mengajaknya berpacaran.

Aksara berhenti sejenak, mencerna ucapan Aneth yang terlewat halus menelusuri telinganya. Kepalanya berbalik, memastikan lagi yang ia dengar memang suara gadis itu atau hanya angan.

Mata mereka beradu, Aneth menatap lantang sementara Aksara sulit diartikan. Senyum manis serta anggukan dari Aneth tercetak jelas dalam pengelihatan Aksara.

"Gimana?"

"Mau." cicit Aneth pelan.

Sudut bibir Aksara sedikit tertarik, ia melirik ke arah lain untuk membuang rasa gugup sekaligus senangnya (kalian bayangin aja kalo di drakor ada pemain cowok yang lagi salting cool)

"Coba ulang." Aneth mendekat, jalannya tak luput dari pengelihatan Aksara. Ia kemudian berdiri dengan jarak rentangan tangan bayi pas di arah pria itu.

"Gua mau." Aksara tak tahan. Ia tersenyum senang dan matanya tak lagi fokus ke Aneth. Semakin ia melihat, semakin lebar sudut bibir itu tertarik ke atas.

"Jadi sekarang kita pacaran?"

"Sesuai keyakinan kamu." balas Aksara dengan senyum tanpa giginya. Laki-laki itu kemudian menepuk pelan kepala Aneth. Menandai bahwa sekarang gadis itu resmi menjadi miliknya. Aneth tertawa, pun dengan Aksara. Akhirnya, setelah hampir lima bulan perjuangan Aksara mendekati Aneth terbayar.

*

"Kenapa lo? Abis keluar kek orang kesetanan sekarang senyam senyum. Kena otak lo?" celetukan Leon membuat fokus core member beralih kepadanya.

"Gua juga pengen ngomong, tapi gua tahan." Varo menyahut. Agak aneh menurutnya, setelah laki-laki itu pergi lebih dari satu jam dari kelas tanpa pamit. Sekarang kembali dengan bibir yang terus merekah tanpa mau memberi penjelasan.

Damian memukul bahu Aksara pelan.

"Tsk, berisik lu." decak Aksara. Laki-laki itu kemudian mengeluarkan buku Matematika nya. Berniat membaca sebentar karena ujian simulasi akan segera dimulai.

"Lo bikin kita semua penasaran Ksa." protes Samuel. Pandangan Aksara tak luput dari buku sama sekali, seakan akan omongan Samuel hanya angin.

"Dan." panggil Leon pada Fadan. Meminta laki-laki itu untuk bertanya kepada Aksara.

"Gua ngga ikutan. Lo aja sana." balas Fadan diseberang. Laki-laki itu berkegiatan sama dengan Aksara. Membaca sekilas buku tebal berjudul Matematika.

"Ah ngga asik lu." Aksara tertawa tanpa suara. Hanya terdengar desisan dari hidung.

"Ayolah Ksa, cerita lo kena__"

"Buka buku lo, gua ngga akan ngasih contekan kalo ngga ada usaha sedikit." Leon gelagapan, ia dengan cepat pergi ke bangkunya tanpa sepatah kata pun. Samuel, Varo dan Damian tertawa.

Cepat-cepat wajah Aksara melirik tiga serangkai itu. Kicep, lirikan mata Aksara berhasil membuat mereka duduk di tempat.

Aksara melirik Fadan. Laki-laki itu menaikkan dua alisnya dengan wajah yang ikut bergerak. Isyarat dari kata tanya lo kenapa?

"Rahasia." Fadan menatap Aksara sinis, kemudian melempar bolpoin ke arah laki-laki itu. Hap, tertangkap tanpa celah.

Sekali lagi Fadan memberi isyarat dengan alisnya yang terangkat. Namun nihil, Aksara tak memberi jawaban dan hanya tersenyum penuh misteri.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang