Part paling banyak ya di sesi ini guyss
**
Lampu temaram menggantung rendah di langit-langit, pantulan cahaya keemasannya menyinari permukaan meja kayu tua. Musik jazz mengalun pelan dari sudut ruangan, cukup lirih untuk menjadi latar dan cukup jelas untuk mengisi keheningan. Bukan bar ala ala dengan dj yang bergema, ini adalah ruangan khusus bertema coklat gelap, lengkap dengan jajaran alkohol dari kadar kecil sampai besar. Ruangan mematikan, itu yang terpatri jelas di ingatan seluruh penghuni tempat ini.
Gani dan Zuyar duduk di tempat mereka sejak lima belas menit lalu. Duduk di tempat yang hanya terisi oleh segelintir orang penting. Mereka tak banyak bicara karena menunggu Valcon, orang paling di segani dalam kalangan ini.
Pintu bar terbuka.
Tak ada suara gaduh. Tak ada pengumuman kedatangan. Namun hampir seluruh ruangan menoleh secara refleks. Valcon masuk dengan stelan hitam sederhana. Bahkan tak mencolok sama sekali. Dan itu yang membuatnya nampak mematikan. Valcon, sang antagonis pusat. Semua bisnis gelap ia pegang. Banyak orang yang mengincarnya, tapi banyak pula orang berkuasa yang mati di tangannya tanpa jejak.
Langkahnya tenang. Santai. Seolah tempat itu memang miliknya. Saking hening nya, seorang pelayan bar hampir menabrak dari samping.
"Maaf, Tuan." ucap wanita itu ketakutan, banyak pesuruh Valcon yang siap menyeret wanita itu pergi, tapi baru selangkah. Tangan Valcon terangkat, isyarat dari kata jangan. Laki-laki paruh baya itu berhenti, tatapannya turun sebentar ke wajah wanita cantik dengan pakaian minim khas bar tersebut.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja." ujar pelayan itu lagi. Posisi ini amat menakutkan baginya. Bahkan puluhan pasang mata terang terangan menatapnya jijik.
Tanpa mengatakan apa-apa, Valcon tersenyum smirk. Laki-laki itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet, sementara wanita itu tampak bingung. Tak berani bergerak karena di depan adalah pembunuh dan di belakang banyak perangkap setan.
Pelayan itu terpojok tanpa tau dimana letak pojok itu sendiri. Valcon, si manusia iblis tak tau malu menyelipkan uang di bagian depan gaunnya. Gerakannya santai. Terlalu santai. Seolah itu hal yang lumrah dilakukan. Wanita itu membeku sesaat. Senyumnya tetap terpasang, meski terlihat jelas dipaksakan, matanya berkaca-kaca. Laki-laki itu, baru saja melakukan pelecehan di depan banyak sekali orang. Buru buru wanita itu pergi dari sana, sementara Valcon hanya terkekeh kecil.
"Tegang sekali. Padahal badannya bagus untuk di jual." katanya ringan. Tak ada yang berani berkomentar. Tak ada yang berani menegur.
Bahkan beberapa orang mengalihkan pandangan. Valcon melanjutkan langkah seolah tak terjadi apa-apa. Definisi menakutkan kira-kira tak cukup untuk mengambarkan laki-laki itu.
"Bos." Gani dan Zuyar berdiri hampir bersamaan saat Valcon tiba di meja mereka. Valcon hanya mengangguk sekali sebelum duduk di kursi utama. Seorang pelayan datang tanpa dipanggil dan meletakkan segelas minuman di hadapannya.
"Kalian kelihatan sibuk akhir-akhir ini." Suara Valcon tenang. Terlalu tenang sampai suara nafas pun terdengar. Musik jazz yang tadi mengalun berhenti. Menyisakan kesunyian. Zuyar menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kami banyak menyusun rencana bos." Valcon mengangkat satu alis.
"Rencana?"
"Iya, rencana untuk musuh terbesar bos." sudut bibir Valcon bergerak samar.
"Menarik." katanya, Valcon meraih gelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
Fiksi UmumFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
