A²💜25

1.2K 21 0
                                        

Kalau author nggak sibuk up nya bakalan cepat... Jadi minta doanya ya prend...

Nb. Kalau tulisannya aku miringin berarti itu dia lagi mikir dalam otak.

**

Tumpukan buku buku tebal tersusun dengan rapinya dalam rak besar yang mirip akan perpustakaan. Di sinilah pemiliknya, duduk di atas kursi sembari membaca lembar demi lembar buku non fiksi tersebut. Matanya membaca fikiranya menerka. Inilah gambaran perasaan gadis kelas sepuluh SMA itu sekarang.

"Duhh gimana kalau sampe abang tau, goblok goblok goblok. Kenapa di usilin segala sih tadi." runtuknya pada diri sendiri lalu menutup buku tebal dalam tangannya kasar, otak dan hatinya kini tengah adu mekanik saling menyambar menghantam diri yang memang terbilang seseorang yang selalu panik. Apalagi saat sorot mata Aksara sore tadi terlihat menyala padam. Ahh kalau di suruh memilih, lebih baik ia memikirkan rumus fisika dari pada hal semacam ini. Juga pasti kakak overnya itu sekarang tengah mencari tahu tentang sumber luka yang terukir indah di pipinya.

Sementara di tempat lain bau masakan dari arah dapur mencuri semua indra penciuman seisi rumah. Sang pemilik yang baru pulang kerja pun telah duduk manis di meja makan bersama Aksara tentunya. kini tinggal Arizka saja lah yang belum turun, entah sedang apa bocah tengil itu sekarang. Yang jelas semua orang telah menunggu kehadirannya.

"Bang, Ariz panggil gih. Keburu dingin makanannya." titah Alfi yang di angguki oleh Aksara.

"Biar saya saja nyonya." tawar salah satu pembantu di rumah ini.

"Ooo, ya udah bi. Minta tol__"

"Nggak usah, biar Aksa aja." potong Aksara langsung di balas anggukan dari ibu dan pembantu yang bersangkutan.

Cowok jakun dengan stelan boxer distro berwarna hitam serta atasan kaus putih itu mulai beranjak kemudian hilang di telan undakan tangga.

Tok tok tok

"Riz, makan malem." ucapnya memberitahu, masih dengan posisi mengetuk pintu. Tak ada sahutan, dan akhirnya ia berinisiatif untuk mengetuk lagi karena mungkin tak terdengar dari dalam.

Tok tok tok

"Riz, turun makan malem." ucapnya sekali lagi namun masih sama, tak ada sahutan dari dalam. Tanpa pikir panjang Aksara masuk, awalnya ia kaget saat pintu itu tak terkunci karena bisanya Arizka selalu menguncinya. Sudahlah, otaknya berkata bodoamat yang penting bisa masuk.

"Riz." panggilnya lantang pas di kuping bagian kanan gadis yang tengah melamun itu.

"Ehh asem." umpat gadis itu asal langsung menjatuhkan buku besar yang ia pegang.

"Gua gorok lu bang. Ngagetin aja." ancam Arizka memungut kembali bukunya.

"Turun, mama nyuruh makan." balasnya datar lalu berbalik arah ingin keluar.

"Tunggu bang." tahanya membuat Aksara seketika menghentikan langkah. "Hmm," balasnya tanpa berbalik.

"Lo marah?" gumamnya malu malu. Aksara terdiam, sepertinya adik kecil itu sudah mulai khawatir kalau kalau ia mengetahui permasalahan di pipinya.

"Marah kenapa?" balasnya mengkerut kan dahi berpura pura bingung.

"Hah? Hehe nggak jadi nggak jadi." sahut Arizka cengo.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang