A²💜3

2.3K 47 0
                                        

Oh iya sebelum baca, aku mau bilang, maaf kalau ada persamaan nama dengan cerita cerita yang lainya, nama nama di karya aku ini real kok dari otak aku, jadi jangan asal bilang kalau aku plagiat milik orang.

Udah itu aja hehe

Happy reading semua..

**


"Neth." panggil Raliya yang berada pas di pinggir gadis itu. Lain dengan Naisa dan Diara yang berada di depan sedang menghadap ke arahnya.

"Netha." panggilnya lagi, tapi sama sekali tak ter respon.

"Hai Neth, yuhhu. Please deh jangan di kacangin." dengusnya mulai jenggah.

"Ni anak lagi ngelamunin apa sih? Sampe suara gua yang manis kelewat batas gini nggak kedengeran." monolog Raliya yang di balas tatapan inggin muntah dari Diara dan Naisa.

"NETH!" teriak Naisa kencang, kenapa nggak sekalian pake toa masjid aja?

"Eh iya ada apa codot?" balasnya kaget, selang beberapa detik gelak tawa dari teman temanya mulai merambat masuk kedalam pendengaran.

"Fyuhh.. Nyaut juga ni anak akhirya." guman Naisa bangga karena berhasil menyadarkan Aneth yang tengah melamun.

"Buset, itu suara apa toa Is?" tanya Diara, yang hanya di balas cengiran oleh Naisa.

"Apa? Ganggu orang ngelamun aja lu."  ketus Aneth kesal sembari mengelus kupingnya yang terasa panas.

"Lagian ngelamun apa sih? Sampe di panggil nggak nyaut." kali ini Raliya bertanya sementara Diara hanya menyimak dengan keimutan yang haqiqi.

"Mau tau aja." balasnya singkat lalu beralih menatap handpone yang dari tadi ia anggurkan. Saat ini memang freeclass dengan alasan guru yang seharusnya mengajar sakit, maka dari itu mereka berkumpul.

"Terserah deh, yang terpenting akhir pekan ini lo harus ikut kita." pinta Raliya namun lebih seperti memerintah. Aneth hanya menaikan sebelah alisnya. Tanda bahwa ia tak tahu akan di ajak ke mana.

"Kita berempat di undang ke pestanya kak Damian, itu loh core member Araster." kali ini Raliya berucap mengebu gebu. Jarang sekali ada anak kelas sebelas yang di undang, biasanya hanya seangkatan atau hanya anak dari kalangan atas dan orang berpengaruh di sekolahan yang terundang.

"Dasiman? Siapa tu?" bingung Aneth memicingkan matanya. Raliya tepuk jidat, sementara Naisa dan Diara terbahak lagi. Bagaimana bisa perkataan sejelas itu malah melesat jauh dari kuping Aneth.

"Damian Netha, bukan Dasiman." ucapnya frustasi.

"Damian siapa?" balas gadis itu masih kebingungan.

"Itu lo Neth, Damian Djava Wicaksono. Wakilnya Aksara." sahut Diara dengan sisa tawanya.

"Aksara siapa lagi?"

"Gesrek keknya otak ni anak." geram Raliya mencak mencak sendiri.

"Aksara, Neth. Aksara ketua Araster, geng motor itu lo." Aneth membentuk huruf O dari mulutnya. Padahal gadis itu sempat mengira bahwasanya aksara Jawa yang huruf-huruf nya belibet tak jelaslah yang mereka bahas.

"Kita, apa lo aja yang diundang?" pasti Aneth. Raliya nyengir. Mbaknya kalau ngomong suka bener deh.

"Gua sih, tapi kan kepalang tanggung kalau cuma beragkat sendiri Neth." jujur gadis itu tak menutupi sama sekali.

"Lagian sayang juga kalau kita ngga ikut. Pasti banyak cogan." Naisa menimpal sembari mengetuk layar handphonenya.

"Kalo ini gua setuju." Diara menyahut.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang