A²💜53

463 11 4
                                        

LAMJYUT YOROBUNNNNN

HAPPY READING ☺

**

"Jangan kaya gini lagi ya cutie pie, pulang ke aku aja kalo capek. Aku khawatir kalo kamu balapan." tangis Aneth pecah, tawa puas tadi hilang. Erangan pelan terdengar menyakitkan, kaus Aksara pun kini basah. Aneth balas memeluk, pelukan erat yang susah terlepas. Tangisnya semakin menjadi, terdengar nada frustasi yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Kali ini Aneth benar-benar menangis, tangis yang bersuara. Bukan tangis diam tanpa kata. Ia memukul dada Aksara pelan, mentransfer rasa sakit yang ia pendam sendiri.

"Sakit Asa, sakit. Dada gua kek di sayat pisau tajem. Sakit." Aksara mengedarkan pandangan, apa yang membuat gadisnya semenyedihkan ini? Hatinya ikut remuk redam, tak tega dengan penderitaan gadis dalam dekapannya.

"Gua se ngga beruntung itu ya?" Aksara menggeleng pelan. Ia tak berani menunduk, takut air matanya ikut jatuh karena tak tahan melihat gadisnya kesakitan.

"Kalau kamu merasa ngga beruntung. Terus kenapa Tuhan hadirin kamu di kehidupan aku? Kamu keberuntunganku cutie pie. Jangan pernah mikir gitu ya." Aneth menatap lamat Aksara dengan mengangkat kepalanya. Mencari ketulusan pada maik mata laki-laki itu. Tak ada kebohongan, matanya jujur. Aneth kembali menangis, tangis dalam diam yang terasa semakin menyakitkan. Aksara mengusap air mata gadis di depannya yang jatuh pas ketika gadis itu berkedip. Pelukan mereka terlepas, jari Aksara dengan telaten mengusap air mata yang terus luruh, padahal masker itu tebal. Tapi tetap saja bajunya basah. Sederas itu Aneth menangis? Ketika selesai di usap jatuh lagi, begitupun seterusnya.

"Papa ya?" dua kata, dua kata dari mulut Aksara berhasil membuat Aneth kembali menangis. Pipinya kembali dihiasi air mata. Aneth pernah bercerita bahwa ia benci papanya dan tak ingin pria paruh baya itu di bahas.

"Maaf maaf, maaf kalau itu sensitif." ujarnya, kemudian memeluk Aneth kembali. Ia mengusap lembut bahu Aneth yang terus bergetar hebat. Kemudian pindah ke kepala. Ia belai kepala berbalut masker motor itu penuh sayang. Tangis Aneth semakin menjadi. Terlihat sesak karena tak bersuara. Apa semenyakitkan itu?

"Udah ya cutie pie, nangisnya udahan. Aku copot maskernya ya. Kamu kelihatan sesek banget." Aneth menggeleng dalam pelukan. Aksara menurut, kemudian memeluk lagi gadisnya penuh sayang. Dua menit berlangsung, tangisan itu reda begitupun pelukan yang mulai kendur.

"Udah lega?" Aneth mengangguk.

"Kita pulang ya? Kamu bisa cerita ke aku. Aku rumah kamu sekarang. Jangan pulang ke hal yang berbahaya lagi. Pulang ke aku." Aneth terlihat ingin menangis lagi.

"Eh, jangan nangis. Stop ya, air mata kamu terlalu berharga. Besok aja nangis pas di altar pernikahan" Aneth menabok lengan Aksara singkat, sementara laki-laki itu terkekeh senang.

'Gombalan gua bapak-bapak banget ya?'

"Ke paddock dulu, gua mau ganti baju." Aksara mengangguk. Akhirnya perjuangan boros kata Aksara tak sia sia, setelah sekian lama Aneth berbicara, lega rasanya.

"Paddock nya nomor berapa?"

"Delapan."

"Paddock Araster nomor tiga. Aku tunggu di sana ya. Kalo kamu udah selesai text aku. Kita pulang pakai mobil aja." Aneth mengangguk. Kemudian berjalan duluan untuk kembali ke motor dan pergi ke paddock.

Aneth menarik nafas panjang. Kondisinya lumayan membaik, mungkin lain kali saja pergi ke bar.

Deru motor membuat pandangan Elita menyipit karena lampu depan yang terang. Aneth turun setelah mematikan mesin motor, kemudian melepas masker dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang